Motivasi
Mereka yang beralasan tidak punya waktu adalah mereka yang membiarkan waktu mengatur hidupnya, bukan malah sebaliknya.
Motivasi
Masalah itu adil, ia datang kepada semua orang, tapi tidak dengan jalan keluar. Jalan Keluar hanya datang kepada mereka yang mencarinya.
Motivasi
Nasib baik tidak pernah salah memilih orang. ia memilih orang yang proaktif menjemputnya.
Motivasi
Hal yang perlu ditakuti saat mengkritik orang lain adalah ketika kita sendiripun tidak lebih baik dari mereka.
Motivasi
Jangan hanya tertarik dengan apa yang dicapai orang sukses, tertariklah dengan airmata yang mereka keluarkan untuk mencapainya.
Jumat, 26 April 2013
Belajar dari Calon Gubernur PKS Maluku Utara
“Melihat wajahnya saja sudah
tampak aurah cinta yang beliau pancarkan, ketika suasana politik masyarakat
Maluku Utara yang di kenal “keras”, kader PKS Ini hadir dengan cinta dalam setiap
momentum kepemimpinannya, beliau menghadirkan sesuatu yang baru dalam peta
perpolitikan di Maluku Utara, “dakwa dengan cinta” KH Abdul Gani Kasuba, Lc telah memulainya jauh sebelumnya”...
1 Juli 2013 adalah waktu yang istimewa bagi masyarakat Maluku Utara, di
tanggal itulah masa depan baru Maluku Utara akan di tentukan, pemilihan
Gubernur Maluku Utara periode 2013-2018 yang di jadwalkan KPU di tanggal 1 Juli
2013 ini tentu mengingatkan kita akan
Pilgub Malut 2007 silam yang “panas” dan “Keras” karena membutuhkan waktu yang
lama dalam penetapan siapa pemenang Pilgub saat itu.
Hari ini tentu masyarakat tidak menginginkan hal itu terulang lagi, harapan
besar dengan hadirnya para calon gubernur yang memiliki track record baik
menjadi dambaan masyarakat. Salah satu figur calon yang perlu kita belajar
adalah KH Abdul Gani Kasuba atau lebih di kenal dengan AGK, calon PKS ini tentu
sedikit berbeda di bandingkan dengan calon yang lain, karena beliau :
Pribadi Santun dan Rendah
Hati
Siapa yang tidak mengenal gaya kepemimpinan AGK, Wakil Gubernur Maluku Utara, dan Mantan Anggota DPR PKS ini selalu tampil santun
dan rendah hati, beliau selalu tampil apa adanya.
Tahun 2011 lalu Ketika hasil survei menempatkan AGK sebagai figur yang memiliki popularitas teratas menandingi figur lainya, Politisi senior PKS ini tak
sedikitpun berbangga diri bahkan legowo jika tidak di calonkan PKS.
Hingga hari ini ketika Keputusan DPP PKS yang mencalonkan
AGK Sebagai Calon Gubernur Malut 2013-2018, kesederhanaan dan Sifat rendah hati
masih tetap melekat dalam diri beliau, itu terlihat dari bagaimana cara pandang
beliau ketika melihat dan mengomentari Pilgub Malut nanti ."Saya berharap agar ke depan masyarakat dapat memahami
bahwa politik tidak selamanya identik dengan bagi-bagi uang, saling memfitnah, adu domba, caci maki dan berbagai
praktek kotor lainnya. Politik sebagai seni untuk mendapatkan kekuasaan
sebenarnya yang bisa di bangun dengan cara yang lebih baik, santun, bermoral serta terbebas
dari pengaruh uang dan materi” (AGK).
Politik
Santun yang dibangun AGK sangat nampak selama menjabat wakil Gubernur Malut 5
(lima) tahun terakhir, meski Gubernur Maluku Utara beberapa kali terseret isu
Korupsi, AGK tidak memanfaatkan itu untuk kepentingan Jabatan pribadinya akan
tetapi AGK senantiasa bekerja menjaga Kestabilan jalannya pemerintahan hingga
saat ini.
Pemimpin Yang Dekat Dengan
Rakyat
Sebagaimana diketahui Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai
140.255,32 km². Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas
106.977,32 km² (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan. terdiri dari 395 pulau besar dan kecil. Dengan medan Geografis yang di dominasi
Wilayah Perairan dan Pulau-pulau tentu membutuhkan energi dan Anggaran besar
bagi seorang untuk Menjangkau masyarakat.
Akan tetapi itu tidak berlaku bagi AGK, Politisi PKS ini telah mengelilingi
Maluku Utara dan tercatat 80% Desa di Maluku Utara bahkan lebih telah beliau datangi, tak mengenal ombak maupun badai lautan.
Itulah sebabnya masyarakat mengenal AGK sebagai sosok pemimpin yang paling bersahaja dengan masyarakat, beliau selalu hadir dalam setiap acara di daerah
baik acara resmi maupun tidak resmi dan dengan sosok yang penuh kepedulian
terhadap masyarakat.
Bahkan kepedulian AGK kepada Rakyat Kecil sampai
pernah mengajak salah satu warga masyarakat yang berjalan kaki saat itu untuk
menumpang mobil dinas Wakil Gubernur bersamanya.
Dalam Dialog Menuju Maluku Utara 1 yang
diselenggarakan dan disiarkan Langsung
Oleh Gamalama TV beberapa waktu lalu, AGK berkomitmen untuk terus bersama
Rakyat dan Pemberantasan KKN. Dimana hal
ini telah beliau lakukan dan buktikan dengan Laporan Keuangan selama
menjabat Wakil Gubernur Maluku Utara 2007-2013 sebagai Laporan Keuangan yang
paling bersih dan tak ada kejanggalan..
Ditengah politik bangsa ini yang di kenal “keras”
dan “menyeramkan”, hari ini kita belajar dari calon gubernur PKS di Maluku
Utara, tentang politik santun dan berwibawa, tentang politik penuh cinta, tak
banyak orang-orang seperti mereka, semoga mereka di berikan kesempatan untuk
memimpin Negeri ini..
Allahualam bissawab
Kamis, 11 April 2013
Puisi Kahlil Gibran
14.49
No comments
Kasihan bangsa
yang mengenakan pakaian
yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum
yang tidak ia panen,
dan meminum susu
yang ia tidak memerasnya.
Kasihan bangsa
yang menjadikan orang dungu
sebagai pahlawan
dan menganggap penindasan penjajah
sebagai hadiah.
Kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya
ketika tidur,
sementara menyerah padanya
ketika bangun.
Kasihan bangsa
yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan
di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada
di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa
yang negarawannya serigala,
filosofnya gentong nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan terompet kehormatan,
namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain
dengan terompet lagi.
Kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu,
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa
yang terpecah-pecah,
dan masing-masing pecahan
menganggap dirinya sebagai bangsa.
Karya : Kahlil Gibran
Senin, 08 April 2013
Tips Menghafal Al-Qur'an
MENGHAFAL AL-QUR'AN, INI TIPS DARI IMAM SYAIKH SA'AD AL-GHAMIDI
Islamedia - Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syekh Saad al-Ghamidi mengungkapkan menghafal Alquran butuh proses dan perlu niat serta kesabaran. Ia mengingatkan, menghafal Alquran harus diperkuat dengan program lanjutan yakni kajian dan pehaman Alquran.Menurut Syekh Saad al-Ghamadi, memahami Alquran tak kalah penting dengan menghafal. ”Memahami wajib dan menghafal sunat,” katanya kepada sejumlah wartawan beberapa waktu lalu, termasuk Republika di Jakarta.
Menurut dia, menghafal Alquran butuh niat dan kesabaran. ''Saya menghafal Alquran tidak sebentar. Perlu waktu lima tahun. Di sela-sela itu, penempaan niat terus dibutuhkan,'' jelasnya.
Ada kalanya niat dan semangat itu kendor. Perbarui terus niat. Ingat dan terus motivasi diri, antara lain dengan pahala. Rasulullah saw bersabda:”Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Alquran di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR Abu Daud dan Turmudzi).
Ia mengatakan, Imam as-Syanqithi menekankan jangan menghafal Alquran untuk ajang perlombaan duniawi, tetapi guna berkompetisi di akhirat. Memang proses itu tidak mudah. Tapi ingat, otak kita itu ibarat mesin.
Jika hari ini hanya satu ayat, besok akan bertambah terus. Mesin akan terus berjalan. Jangan lupa, sediakan waktu untuk menghafal satu atau dua jam tiap hari.
Syeikh Saad al-Ghamidi mengingatkan ulangi terus hafalan Anda. ''Guru saya berpesan, tiap surah yang dihafal harus diulangi lebih dari satu kali. Jika perlu 20 atau bahkan 40 kali. Libatkan teman utuk mengulang hafalan bersama,'' jelasnya.
Di Dammam, Arab Saudi, kata al-Ghamidi, tradisi ini berjalan. Keberadaan teman dalam menghafal juga perlu.''Ingat, mengulang hafalan tak kalah rumit dibanding menghafal,'' jelasnya.
Seorang hafiz, kata dia, harus menjadi pionir akhlak. Rasul bersabda, ''Sebaik-baik dari kalian ialah mereka yang belajar Alquran dan mengajarkannya.''
Menurut dia, seorang penghafal Alquran harus tawadhu, berbakti pada orang tua, dan berhias dengan akhlak terpuji. Jangan salah, kata dia, seorang penghafal Alquran juga manusia. Bisa saja berbuat salah.
''Ini bukan berarti, seorang hafiz harus kaku dalam kehidupannya. Silakan berinteraksi sewajarnya. Bermainlah dengan anak-anak, bercandalah, berolahragalah, dan beraktivitas seperti biasa,'' jelasnya mengingatkan. [rol/IM]
—
Selasa, 02 April 2013
Tips : Amanah dan Profesional
Amanah dan Profesional
Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Salah satu perang besar dan paling bersejarah di zaman Nabi Muhammad SAW adalah perang Uhud. Pada perang Uhud, Nabi Muhammad SAW menurunkan 700 anggota pasukan, sedangkan kaum musyrikin menurunkan 3000 orang pasukan. Dari segi jumlah pasukan, peperangan itu memang tak seimbang. Kaum muslimin terbatas jumlahnya.
Namun sebagai antisipasi, Nabi menempatkan 50 pemanah di atas bukit Uhud. Mereka bertugas melindungi pasukan kaum muslimin dari jarak jauh, sekaligus menahan serangan dari arah belakang (pintu masuk) medan pertempuran. Nabi lalu menunjuk Abdullah bin Zubair sebagai komandan pasukan berpanah ini.
Beliau juga berpesan, apapun yang terjadi pasukan berpanah tidak boleh meninggalkan lokasi tersebut, kecuali jika mendapat aba-aba dari Nabi.
Singkat cerita, kedua pasukan berada di medan laga. Kaum musyrikin Quraisy pun bersiap untuk menyerang. Mereka datang dengan kekuatan 3.000 personil, seratus orang di antaranya adalah pasukan berkuda.
Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid yang ketika itu belum masuk Islam. Sedangkan di sebelah kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl yang juga belum masuk Islam pada saat itu.
Namun karena kaum muslimin berperang dengan alasan jihad dan strategi perang yang telah disusun oleh Nabi, kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Perlahan tapi pasti pasukan musyrikin mulai kewalahan. Akhirnya mereka melarikan diri meninggalkan gelanggang pertempuran, termasuk meninggalkan harta dan barang-barang berharga milik mereka.
Melihat kejadian ini, pasukan berpanah dari pihak kaum muslimin di atas bukit Uhud, lupa dengan tugas yang diamanahkan Rasulullah. Lalu mereka berebutan turun bukit meninggalkan markas mereka. Mereka tergoda oleh harta yang ditinggalkan kaum musyrikin yang tunggang langgang melarikan diri.
Mereka berebut ingin mendapatkan harta rampasan perang yang ditinggalkan kaum musyrikin. Komandan pasukan berpanah Abdullah bin Zubair berusaha mengingatkan mereka: “Apakah kamu lupa pesan Rasulullah?” ujarnya.
Namun perintah Abdullah bin Zubair tak mereka hiraukan. Mata mereka telah silau oleh godaan harta.
Kaum musyrikin melihat peluang ini, bergerak cepat dan mengambil posisi yang ditinggalkan pasukan berpanah kaum muslimin. Kondisi semula menjadi terbalik, kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin.
Beberapa sahabat nabi yang masih bertahan di bukit Uhud berusaha bertahan dan melawan. Namun karena jumlah mereka hanya beberapa orang saja, perlawanan mereka bisa dipatahkan, mereka pun gugur satu per satu.
Para sahabat dan pasukan kaum muslimin kocar-kacir. Kaum musyrikin terus merangsek maju mendekati posisi Rasulullah. Mereka berhasil memecahkan helm besi milik Nabi dan melukai kepala beliau.
Bahkan beberapa kali beliau terperosok ke dalam lubang yang digali oleh Abu Amir Fasiq dan melempari beliau dengan batu-batuan. Nabi mengalami luka-luka dan cedera yang cukup parah, gigi seri Nabi juga patah dalam peristiwa itu, hampir saja beliau wafat di sana.
Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat pahit bagi umat Islam. Kata kunci dalam peristiwa itu adalah tidak amanah dan tidak profesional. Pasukan berpanah tidak amanah, karena mereka melalaikan amanah diberikan nabi untuk tidak meninggalkan posisinya.
Mereka juga tidak profesional karena tidak bekerja secara baik sesuai dan mudah terpengaruh godaan. Godaan dalam peristiwa ini adalah harta.
Mereka juga tidak profesional karena tidak bekerja secara baik sesuai dan mudah terpengaruh godaan. Godaan dalam peristiwa ini adalah harta.
Dalam Al Quran dikatakan, Allah sengaja menguji umat Islam dalam peristiwa itu. Seperti firman Allah dalam Surat Ali Amran: 152, Allah menguji manusia dengan hal-hal yang disukainya dan mereka berpaling dari Rasul-Nya saat diuji.
Dalam ayat itu, Allah menegaskan, sebagian manusia memikirkan kehidupan di akhirat kelak, namun sebagian manusia lainnya, hanya memikirkan dunia.
Kesukaan yang kuat menggoda manusia itu diantaranya harta, belakangan ditambah lagi dengan wanita dan tahta. Masalah klasik itu sama sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang. Karena penyebabnya sama, seharusnya dengan mudah kita bisa mengatasinya.
Harta, jabatan dan wanita (istri) adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, jaga dan jalankan dengan baik sehingga semua itu menjadi nikmat dan rahmat, bukan sebuah laknat yang akan menyengsarakan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Namun godaan selalu dengan mudah memperdaya manusia yang lemah imannya.
Tak peduli apapun jabatan atau pekerjaan seseorang, berlakulah amanah dan profesional. Jika ia seorang pejabat, berlakulah amanah dan pofesional sebagai seorang pejabat, agar sukses dalam melaksanakan pekerjaan dan bermanfaat bagi umat.
Jika hal itu dilakukan, insya Allah ia akan diberikan amanah yang lebih besar lagi, tidak perlu kasak-kusuk dan melakukan cara-cara yang tidak benar.
Begitu juga jika ia sopir, jalankan pekerjaan itu secara profesional dan amanah. Bisa kita bayangkan jika seorang sopir bis umum misalnya, jika tidak menjalankan amanah dan profesional. Ia mabuk dan ugal-ugal membawa bis atau mengantuk di jalan yang padat lalu lintas, tentu nyawa dan kerugiaan harta benda yang menjadi taruhannya akibat kecelakaan yang berpeluang besar terjadi.
Nabi juga berpesan agar suatu pekerjaan atau jabatan diberikan kepada ahlinya. “Berikanlah suatu pekerjaan kepada ahlinya, bila suatu pekerjaan diberikan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Maksudnya berikan jabatan atau pekerjaan itu kepada orang yang bersikap amanah dan mampu bekerja secara profesional.
Banyak contoh yang telah terjadi, akibat lalai, kesalahan kecil yang dianggap sepele dapat menimbulkan dampak yang besar bahkan dahsyat.
Sopir yang mengantuk akibat malam sebelumnya begadang menonton pertandingan sepakbola misalnya, bisa menimbulkan kecelakaan beruntun yang menyebabkan kehilangan puluhan nyawa. Atau bisa juga menimbulkan masalah nasional, keguncangan sebuah negara, jika ia seorang sopir presiden.
Atau kesalahan staf mendisposisi surat misalnya, bisa berdampak dicopotnya seorang pejabat dan lalu merebak menjadi isu regional dan berkembang lagi menjadi isu nasional! Penyebabnya hanya masalah sepele, lalai dan tidak profesional.
Di lingkungan Pemprov Sumbar saya sudah berkali-kali mengingatkan agar kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah) berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan, sekecil apapun. Peringatan itu dilanjutkan lagi dengan surat edaran.
Berikutnya saya mengumumkan akan memberikan sangsi kepala SKPD yang melakukan maksimal 10 kali kesalahan kecil (terutama dalan adminitrasi surat-menyurat). Tentu saja tak ada ampun bagi yang melakukan besar dan fatal, sangsi menjadi keputusan tetap setelah diproses melalui Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat).
Alhamdulillah hal ini telah menimbulkan dampak yang positif, kepala SKPD menjadi ekstra hati-hati dan berupaya bekerja lebih profesional.
Semoga proses itu terus berjalan dan dipatuhi, jajaran Pemerintah Provinsi Sumatra Barat bisa menjalankan amanah dan bekerja secara profesional, mampu meniadakan kesalahan dan kelalaian sekecil apapun serta mampu memberikan pelayan yang maksimal untuk kejayaan dan kemajuan Sumatra Barat di masa depan. Amin… (*)
Singgalang 27 Maret 2013
Kamis, 28 Maret 2013
Tips : Untuk Para Yunior dan Senior
Penjelasan Ayat "Kabura Maqtan" | @salimafillah

Semoga Allah bimbing, semoga Dia karuniakan tuk kita semua ilmu yang barakah; berikut tentang "Kabura Maqtan"
- Banyak terfahami ayat "Kabura Maqtan" {QS61:2-3} sebagai ancaman bagi yang menyeru tapi belum melaksanakan. Sebagai renungan; ia baik
- Tapi tak seyogyanya ia menghalangi kita untuk "Berilmu Sebelum Bicara & Beramal", kemudian menyampaikan ilmu pada yang memerlukannya.
- Demikianlah Ibn Taimiyah yang tak menikah tetap membahas Munakahat dalam Fatawa; & Sayyid Quthb tetap mentafsir ayat-ayat rumahtangga.
- Sebab pada asalnya {QS61:2-3} bukan tentang halangan itu; melainkan soal kekokohan barisan jihad. Bersambung makna dengan ayat ke-4.
- "Hai orang-orang beriman; mengapa kalian katakan apa yang tak kalian kerjakan? Amat besar murka di sisi Allah jika.. dst." {QS61:2-3}
- Tafsir kedua ayat ini terkait dengan Asbab Nuzul-nya. Setidaknya ada 2 pendapat mengenai hal ini. Yang pertama dari Ibn 'Abbas, Rd'A.
- Bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang kala masih di Makkah bersemangat memerangi Musyrikin; sedang "Kuffu Aidiyakum"
- Tetapi ketika di Madinah & jihad diperintahkan; mereka justru mengajukan 'udzur sebab perang itu tak seperti yang mereka bayangkan.
- Mereka harus berhadapan dengan keluarga & kerabat tercinta. Berat. Maka Allah menegur mereka dengan lembut & tegas di {QS61:2-3} ini.
- Cermin tuk kita; junior yang terlalu terbakar idealita & belum terbentur realita pelik dalam da'wah agar belajar bijak & tak congkak.
- Pemahaman kedua; dari Ibn Mas'ud, Rd'A. Bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang masuk Islam lebih awal dibandingkan yang lain.
- Di antara mereka ada yang menyebut-nyebut amat beratnya derita & besarnya pengorbanan yang mereka berikan dalam menegakkan Islam.
- Allah menegur mereka agar terhindar dari 'penambahan cerita' & dari keadaan kini nan tak sesuai dengan apa yang dulu mereka tekadkan.
- Juga agar tak mengecilkan hati & membuat tak nyaman sahabat lain yang baru masuk Islam hingga merasa tak berharga & belum berjuang.
- Cermin kita; agar para senior tak mengungkit 'jayanya' masa lalu apalagi jika ditujukan untuk meremehkan & mengecilkan para junior.
- Agar dihindari kalimat, "Ente kagak ngerasain waktu kite awal dulu Tong; ngaji aja suse; tempatnye jauh, mesti atu-atu datengnye!"
- Kedua makna ini pelajaran penting bagi junior maupun senior; agar senantiasa berjihad di jalan Allah dengan menjaga harmoni barisan.
- Itulah makna yang diikat ayat ke-4; "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang rapi..
- Seakan-akan mereka adalah bangunan yang tersusun kokoh." WaLlahu A'lam. Demikian; semoga bermanfaat.
Senin, 18 Maret 2013
TIPS : BEKERJA ATAU IBU RUMAH TANGGA?
Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga ya? kali ini saya publish Tulisan Istri Saya yang beberapa waktu lalu (Sabtu 16 Maret 2013) di Muat di Harian Malut Post...
Oleh :
Ati’ah Dyah Lestari, S.S.T.
Bismillahirrohmanirrohim.
Perempuan,
selalu menarik, dalam hal apapun. Termasuk membicarakan tentang kodratnya
sebagai seorang isteri sekaligus ibu. Perbincangan mengenai bekerja atau
menjadi ibu rumah tangga selalu menjadi isu 'hot' yang tak kunjung habis. Sebab, masing-masing
peran, entah sebagai wanita bekerja atau irt, memiliki ruang 'dilema'nya
masing-masing. Saya jadi teringat, sebuah adegan di sinetron, saat seorang
mertua meminta menantu perempuannya berhenti bekerja.
"Saya
masih bingung Bu, kalau saya tidak bekerja, saya ngapain ya di rumah?"
"Ya
banyak, kamu bisa shopphing, perawatan di salon, memasak untuk suamimu, dan mengurus
rumah"
Dua
kata dalam adegan tersebut sengaja saya beri warna biru. Saya sempat tersenyum
saat mendengar dialog ini, bersenang-senang, bersantai apalagi bisa perawatan
dan shopping, itu semua dambaan setiap wanita. Tetapi, hakikat dalam tulisan
ini tidak menuju kesana. Kita akan berbicara tentang ruang 'dilema' yang
senantiasa digundahkan oleh perempuan-perempuan, termasuk saya.
Menurut
saya, secara kodrati, seorang ibu pekerja atau ibu rumah tangga, kedua status
tersebut tidak dapat dipilah-pilah, keduanya menyatu. Seorang ibu yang bekerja
(dalam rangka mencari nafkah) juga tetap mengurus rumah. Kita telah banyak
menyaksikan ibu-ibu pekerja yang begitu cekatan mengurus keluarganya, bangun
pagi-pagi, membuatkan sarapan, mengurus cucian dan banyak lagi. Sebaliknya,
seorang ibu rumah tangga, jelas ia juga seorang yang bekerja. Seorang ibu rumah
tangga, bahkan tidak memiliki waktu untuk berhenti, di sepanjang harinya,
pekerjaannya di rumah, senantiasa bertambah dan menanti.
Kalau
begitu, apa yang membuat ruang 'dilema' itu muncul? dilema itu muncul, saat
perbincangan mengarah kepada pemenuhan pendidikan dan hak anak. Seorang ibu
yang bekerja, dihadapkan pada persoalan bagaimana mengasuh anak, memenuhi
ASInya, dan lebih dari itu, memenuhi kebutuhan aspek psikologisnya. Oleh karena
itu, banyak wanita bekerja yang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti.
Tetapi, permasalahannya, mungkin tidak hanya sampai disitu, sebab kenyataannya
mendidik anak bukanlah persoalah mudah sehari selesai. Atau sekedar berdebat panjang
tentang status sang ibu, tetap bekerja atau menjadi ibu rumahan saja. Maka,
sekedar berbagi pemikiran saja, mungkin ada baiknya kita merenungkan kembali
hal-hal berikut ini:
1. Untuk Apa Saya
Bekerja?
Islam
sangat memuliakan kedudukan wanita, hingga dengan terang benderang menyatakan
bahwa kewajiban mencari nafkah diberikan kepada suami. Tetapi, dewasa ini,
seorang isteri pun banyak yang turut ikut bekerja (mencari nafkah) dengan
beragam alasan. Jika pun demikian, maka coba fikirkan baik-baik, dengan alasan
apa kita harus bekerja (mencari nafkah) membantu suami. Baik bekerja maupun di
rumah saja, masing-masing memiliki kebaikan. Dengan bekerja, selain mandiri
secara finansial, membantu keuangan di rumah, memiliki banyak relasi, mengenal
dunia luar, menjadi seorang profesional dan banyak lagi.
Tetapi,
tidak perlu khawatir, jika pilihan itu jatuh, untuk menjadi ibu rumah tangga.
Banyak kebaikan juga tersimpan disana, kebersamaan bersama anak, waktu yang
banyak untuk mengurus dan melayani keluarga, lalu banyak lagi. Menjadi seorang
ibu rumah tangga juga tidak serta merta membuat kita tidak mandiri secara
finansial. Seorang IRT juga bisa mandiri secara finansial tanpa harus
kehilangan momen berharga bersama anak-anak dan keluarga. Membuka warung/toko,
mengajar privat di rumah, berjualan di dunia maya, menulis, hanyalah satu dari
sekian banyak pilihan yang bisa dipilih. Seorang IRT juga bisa memiliki banyak
relasi dan dunia luar, saat bisnis rumahannya bertambah maju, ikut aktif
berperan dalam perkumpulan ibu-ibu semisal arisan, pengajian, PKK, Posyandu
atau banyak lagi.
2. Air Susu Ibu atau
Air Susu Sapi?
Jika
saya ditanya, apa yang hendak saya lakukan jika saya bukan lagi seorang
pegawai? barangkali, saya akan membuka sekolah, untuk anak-anak saya dan banyak
anak lagi di luar sana. Membuka daycare, tempat penitipan anak atau semacam
itu, bayangan yang sempurna dibenak saya. Lalu, saya sekalian saja membuka toko
buku, atau warung kelontongan sederhana juga tak apa.
Bukan
bermaksud mendiskreditkan seorang pegawai atau karyawan, bukan begitu. Tetapi,
saya hanya ingin mengajak kita semua, untuk memiliki rencana. Jika pun tetap
ingin bekerja, jadilah pengusahanya. Jadilah pemilik waktunya. Bagi yang telah
memutuskan untuk berhenti bekerja, jangan khawatir, anda masih bisa memikirkan
pekerjaan apa yang tepat sebagai seorang irt yang mandiri. Pakailah modal yang
telah anda himpun selama bekerja, untuk membuka usaha kecil-kecilan, atau
sekalian saja usaha besar jika memang modalnya besar. Bagi ibu-ibu yang bekerja
full sebagai ibu rumah tangga, yang saat ini tengah kerepotan mengurus si kecil
atau sibuk dengan banyaknya anak-anak, sehingga belum bisa merealisasikan
keinginan untuk mandiri secara finansial. Berfokus saja dulu mengurus keluarga
(jika semua kebutuhan telah terpenuhi oleh suami), kemudian bergabunglah dengan
komunitas yang membangun. Olah setiap kreativitas yang dimiliki untuk
dikembangkan.
Bagi
yang tetap bekerja (mencari nafkah) atau apapun alasan yang mendasarinya.
Ibu-ibu yang menjadikan profesinya sebagai ladang amal. Guru, perawat, dokter,
dosen atau pegawai pemerintahan atau semacam itu, jika memang kesempatan,
kemampuan dan keadaan memang mendudukkan kita berada disana, jalani dan
syukuri. Resiko selalu ada, baik sedang bekerja atau dirumah saja.
Saya
membaca status seorang ibu pekerja yang hari ini sedang kelabakan, karena
hendak dinas luar, dengan catatan tidak diperkenankan membawa anak. Padahal,
anaknya masih berumur bulan. Gundah gulana si ibu tentu pernah juga dirasakan
oleh ibu-ibu pekerja kantoran yang lain. Saya jadi teringat status saya
beberapa bulan lalu, tentang cuti melahirkan di negara kita yang hanya tiga
bulan. Sementara di negara-negara lain telah lebih bijak dengan memberikan
jangka cuti yang lebih panjang, untuk memenuhi kebutuhan bayi akan ASI. Tetapi,
banyak juga tanggapan yang tidak sependapat dengan itu (maksud saya, jika
negara kita juga ikut menerapkan cuti lebih dari tiga bulan), dan ucapan itu
terlontar pula dari seorang perempuan. Maka, jangan heran jika beberapa peraturan
yang dibuat terkadang tidak menguntungkan bagi ibu, yang akhirnya berujung pada
tidak terpenuhinya hak anak.
Tetapi,
para ibu di tahun 2012 lalu, begitu berbahagia dan berbunga-bunga setelah
muncul PP ASI yang baru. Dan bagi saya secara pribadi, hal ini sangat baik dan
membuat peraturan cuti melahirkan pegawai menjadi berimbang. Dalam Peraturan
Pemerintah No 33 Tahun 2012 Tentang ASI, dimana dengan jelas menguraikan
tentang tanggung jawab pemerintah tentang pencapaian program pemberian ASI
Eksklusif yang tertuang dalam Pasal 3, 4 dan 5:
Pemerintah
bertanggung jawab membina, mengawasi, serta mengevaluasi pelaksanaan dan
pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,
satuan pendidikan kesehatan, Tempat Kerja, tempat sarana umum, dan kegiatan di
masyarakat.
Maka,
seharusnya tidak boleh ada pelarangan saat seorang ibu membawa bayi ke tempat
kerja, meski hal ini nampaknya masih begitu tabu dan berlawanan dengan
mainstream yang telah melekat di masyarakat. Sehingga tidak perlu lagi, ada
ibu-ibu yang harus bercucuran airmata saat harus berangkat bekerja.
Pasal
30
(1)
Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus mendukung
program ASI Eksklusif.
(2)
Ketentuan mengenai dukungan program ASI Eksklusif di Tempat Kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perusahaan antara
pengusaha dan pekerja/buruh, atau melalui perjanjian kerja bersama antara
serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha.
(3)
Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan
fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi
kemampuan perusahaan.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui
dan/atau memerah ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal
34
Pengurus
Tempat Kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk
memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di
Tempat Kerja.
Pasal
35
Pengurus
Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib membuat peraturan
internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.
Jika
membaca cuplikan dari PP tersebut, maka jelas bahwa seharusnya tempat kerja
wajib memberikan fasilitas tempat menyusui, wajib memberi kesempatan memberikan
ASI Eks saat jam kerja, mendukung tercapainya program ASI Eksklusif.
Pasal
36
Setiap
pengurus Tempat Kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum yang tidak
melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat
(3), atau Pasal 34, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Bagi
ibu-ibu pekerja yang dilema terhadap peraturan yang membelenggu seperti kasus
yang dihadapi sang Ibu yang hendak dinas luar tadi, secara hukum dapat
mengajukan keberatan, gugatan atau semacamnya berdasarkan PP ini, yang
dikuatkan dalam pasal 36.
Butuh
perjuangan untuk dapat merealisasikan peraturan Tuhan. Saya katakan demikian,
sebab peraturan menyusui ini sendiri sudah jelas-jelas tertuang dalam Al-Quran.
Tetapi, syukurlah jika pemerintah kita telah cukup peduli dengan membuat
Peraturan Pemerintah. Dengan begitu, saat terjadi ketidaksepahaman, ibu pekerja
masih dapat berkilah dengan payung hukum negara.
Tentang
ASI inilah adalah ruang 'dilema' bagi ibu pekerja, melahirkan keresahan yang
begitu dalam tentang pilihan, bekerja atau ibu rumah tangga?
Bagi
saya, keduanya tidak ada bedanya, sama-sama hebat dan memiliki sisi baik.
Jadi
tidak perlu ada dikotomi atau membanding-bandingkan kondisi keduanya, baik yang
saat ini berstatus ibu pekerja maupun ibu rumah tangga.
Keduanya
sama hebatnya!!
Wallohu
a'lam bish showab
Dakwah Itu……………………
Dakwah Itu……………………
Dakwah itu, membina, bukan menghina…
Dakwah itu, mendidik, bukan 'mendelik'…
Dakwah itu, mengobati, bukan melukai
Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…
Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…
Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…
Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan..
Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar....
Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar ..
Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…
Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh...
Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…
Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif..
Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…
Dakwah itu, realistis, bukan fantastis
Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata.
Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…
Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji...
Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan..
Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat...
Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru..
Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…
Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat
Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan...
Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya..
Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran..
Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif….
Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan..
Dakwah itu, memberi senyum manis J, bukan menjatuhkan vonis…
Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…
Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan..
Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…
Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…
Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…
Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…
Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…
Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…
Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…
Dakwah itu, kita mengatakan.. 'aku cinta kamu'… bukan… 'aku benci kamu..'
Dakwah itu, kita mengatakan, 'Mari bersama kami…' bukan.. 'Kamu harus ikut kami...'
Dakwah itu, dapat di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran…. Dakwah bukan hanya di pengajian….!
Dakwah itu, ……asyik dah ……… Mau ikutan?... Hayuu lah..!
Riyadh, 1434 H
(dikutip dari milis duat oleh abdullah haidir )
Langganan:
Postingan (Atom)













