Motivasi

Mereka yang beralasan tidak punya waktu adalah mereka yang membiarkan waktu mengatur hidupnya, bukan malah sebaliknya.

Motivasi

Masalah itu adil, ia datang kepada semua orang, tapi tidak dengan jalan keluar. Jalan Keluar hanya datang kepada mereka yang mencarinya.

Motivasi

Nasib baik tidak pernah salah memilih orang. ia memilih orang yang proaktif menjemputnya.

Motivasi

Hal yang perlu ditakuti saat mengkritik orang lain adalah ketika kita sendiripun tidak lebih baik dari mereka.

Motivasi

Jangan hanya tertarik dengan apa yang dicapai orang sukses, tertariklah dengan airmata yang mereka keluarkan untuk mencapainya.

Kamis, 25 November 2021

PERJUANGAN GURU Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan





Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani


Itulah salah satu semboyan dunia Pendidikan dari Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara dalam Bahasa Jawa yang disematkan bagi seorang guru. Ing ngarsa sung tulada bisa diartikan bahwa seorang guru atau pendidik harus menjadi panutan atau memberikan contoh. Ing madya mangun karsa berarti di tengah membangun atau memberikan semangat, kemauan, atau niat. Tut wuri handayani berarti di belakang atau dari belakang memberikan semangat atau dorongan. Jika disatukan, maka semboyan itu bisa diartikan guru di depan memberikan contoh atau sebagai panutan, di tengah membangun kemauan atau niat, dan di belakang memberikan dorongan atau semangat. Begitulah betapa pentingnya peran seorang guru dalam dunia Pendidikan.

Dalam sejarah Indonesia yaitu pada 24-25 November 1945 Persatuan Guru Indonesia (PGI) menggelar Kongres Guru Indonesia di Surakarta,Solo. Karena Indonesia sudah merdeka dan menjadi negara, PGI berubah menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Lalu Pemerintah Indonesia menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994. Maka ini salah satu bentuk pemerintah dalam menghargai perjuangan seorang guru yang diperingati setiap tahunnya. Dan di tahun ini adalah tahun ke-27 kita memperingati Hari Guru dengan tema “Bergerak dengan hati, Pulihkan Pendidikan”.

Tentu tema ini sangat sesuai dengan kondisi kita saat ini. Kita sama sama merasakan bagaimana di awal tahun 2020 bangsa ini dilanda pandemic virus covid-19. Sejak muncul virus ini di akhir tahun 2019, hingga kini virus korona masih ada di antara kita. Begitu luar biasa di berbagai aspek semuanya terkena dampaknya tak terkecuali dalam dunia Pendidikan. Sempat hampir dua tahun Pendidikan tak bisa dijalankan sebagaimana biasa. Sempat dalam waktu lama pembelajaran tatap muka di sekolah terpaksa dihentikan guna mencegah penularan virus corona. Sebagai gantinya pembelajaran dijalankan dalam jarak jauh/daring. Untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19, berbagai regulasi dikeluarkan pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa kali merevisi aturan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) agar pemanfaatannya bisa lebih fleksibel guna mengakomodir kebutuhan sekolah di tengah pandemi. Bantuan pun tidak kurang digelontorkan. Paket data untuk pembelajaran jarak jauh misalnya, diberikan secara gratis kepada siswa, guru, mahasiswa dan dosen dengan besaran kuota yang bervariasi.

Upaya pemerintah tersebut, sejauh ini memang mampu menekan angka penularan Covid-19 di lingkungan sekolah dan mencegah terjadinya penyebaran korona dari kluster pendidikan. Namun hal tersebut tidak banyak membantu dan menyelesaikan soal dalam pembelajaran jarak jauh. Berbagai tantangan dan kendala masih dialami dalam praktek pembelajaran di lapangan. Wilayah Maluku Utara yang sangat luas dengan kondisi geografis kepulaua, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda turut mempengaruhi efektivitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemik Covid-19 ini.Kenyataan ini merefleksikan bahwa kita memang tidak siap menjalankan pendidikan dalam jarak jauh. Ketidaksiapan ini tidak hanya terkait infrastruktur pendukung tetapi juga berkaitan dengan mental kita. Persoalan mental yang dimaksud berhubungan dengan tanggung jawab dalam proses pendidikan anak.

Refleksi akan tanggung jawab pendidikan didasarkan pada konsep trisentra pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara. Menurut Bapak Pendidikan Nasional ini, pendidikan merupakan tanggungjawab tiga komponen yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan. Ketika pembelajaran di sekolah dihentikan secara mendadak karena pandemi dan anak harus belajar dari rumah, semua kita menjadi gagap dan gugup. Tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Orang tua bingung bagaimana mendidik anak. Guru begitu cemas memikirkan siswa yang tidak bisa berbuat apa-apa karena terlalu lama dikekang. Masyakat malah bersikap apatis. Secara kultural, kita tidak siap untuk belajar secara mandiri di rumah. Namun dalam kondisi seperti ini, pendidikan harus terus berjalan. Pendidikan jarak jauh sebagai alternatif pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Walau demikian, kita tidak bisa menihilkan urgensitas peran guru. Karena pendidikan tidak bisa berjalan tanpa seorang guru. Untuk itulah guru tetap berkarya meski dalam situasi sulit ini.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Hingga hari ini alhamdulillah kondisi kasus covid-19 sudah mulai menurun. Ketika itu mulai pertengahan Agustus 2021 di Kota Ternate sudah diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka walaupun masih terbatas. Maka sebagai refleksi hari guru setelah melewati masa sulit pandemi ini menghantar saya pada dua point berikut;

Pertama, kehadiran guru dalam proses pendidikan adalah suatu keniscayaan. Dalam pembelajaran jarak jauh, figure guru tidak bisa digantikan oleh kehadiran teknologi pembelajaran tetapi malah mengokohkan peran guru. Teknologi hanya sebatas alat bila tidak dipandu atau dibantu oleh guru.

Kedua, pembelajaran jarak jauh adalah momen untuk merajut kembali hubungan sekolah dan keluarga. Rumah dan sekolah yang “berjarak” selama ini mesti didekatkan dengan komunikasi yang lebih intens baik itu lewat media komunikasi maupun kunjungan rumah.

Pada titik ini saya dan Anda sekalian harus mengakui bahwa eksistensi lembaga pendidikan terletak pada guru dan murid. Tak pernah ada guru tanpa murid. Karenannya, seorang guru dikatakan hebat jikalau mampu membawa sekian banyak murid terbang bersamanya untuk menggapai beragam prestasi tanpa henti. Menjadi guru itu banyak tantangannya. Namun Ketika seorang guru mendidik dengan ketulusan cinta dari bhati yang terdalam maka tantangan yang ada justru menjadi sebuat motivasi untuk membuat karya yang lebih baik dalam dunia Pendidikan. Mari para guru dengan hati, kita pulihkan pendidikan. Karena “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”. Terimakasih Guru!






Oleh : Ati’ah Dyah Lestari, SST. (Coach di Malut Edusmart)