Motivasi

Mereka yang beralasan tidak punya waktu adalah mereka yang membiarkan waktu mengatur hidupnya, bukan malah sebaliknya.

Motivasi

Masalah itu adil, ia datang kepada semua orang, tapi tidak dengan jalan keluar. Jalan Keluar hanya datang kepada mereka yang mencarinya.

Motivasi

Nasib baik tidak pernah salah memilih orang. ia memilih orang yang proaktif menjemputnya.

Motivasi

Hal yang perlu ditakuti saat mengkritik orang lain adalah ketika kita sendiripun tidak lebih baik dari mereka.

Motivasi

Jangan hanya tertarik dengan apa yang dicapai orang sukses, tertariklah dengan airmata yang mereka keluarkan untuk mencapainya.

Senin, 30 Desember 2013

Tips Bahagia Dunia dan Akhirat :)

Ingatlah…… Lupakanlah…

• Selalulah ingat orang yang pernah menolongmu, lupakan orang yang pernah engkau tolong. 


• Selalulah ingat dosa-dosa yang telah kau lakukan, lupakan menghitung pahala yang telah kau kumpulkan..

• Selalulah ingat nikmat surga saat kau dapati keletihan dan beratnya menjaga iman dan amal, lupakan lezat dan keindahan maksiat berbanding dengan pedihnya azab akhirat… 

• Selalulah ingat orang yang pernah engkau sakiti, lupakan orang yang pernah menyakitimu. 

• Selalulah ingat, nikmat-nikmat yang pernah kau dapatkan, lupakan duka dan luka yang pernah kau rasakan… 

• Selalulah ingat orang-orang yang pernah mengajarimu, lupakan orang-orang yang pernah engkau ajari… 

• Selalulah ingat harta yang belum engkau sedekahkan, lupakan harta yang telah engkau infakkan… 

• Selalulah ingat orang-orang yang kekurangan dan ditimpa nestapa, lupakan khayalan-khayalanmu tentang orang-orang yang diberi kelebihan dunia… 

• Selalulah ingat ilmu yang belum kau amalkan, lupakan amal dari ilmumu yang telah engkau laksanakan.. 

• Selalulah ingat akhirat yang kian dekat mendatangimu, lupakan dunia yang telah pergi meninggalkanmu…

• Selalulah ingat… isteri/suamimu yang halal bagimu dan setia mendampingimu, lupakan laki2/wanita yang haram bagimu dan berupaya merayumu serta memikat hatimu...

• Selalulah ingat bayang2 keberhasilan dari kerja kerasmu, lupakan bayang2 kegagalan yang pernah menghampirimu….

• Selalulah ingatlah nasehat dan kritik membangun untukmu, lupakan pujian sanjungan yg dapat menjatuhkanmu. 


Oleh :  

abdullah haidir

Riyadh, Shafar 1435 H. 
__._,_.___

Jumat, 27 Desember 2013

Natalmu, Bukan Natalku

Natalmu, Bukan Natalku
*****
Bagi yang ingin mengucapkan selamat Natal
--------------------------

Suatu kali Rasulullah tawaf di Ka'bah. Tiba-tiba beliau berpapasan dengan para gembong Quraisy. Di antaranya Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal. 

Sebelumnya mereka sudah dengan berbagaimacam cara membujuk Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun Rasulullah teguh dengan pendiriannya. Lebih teguh dari pada karang di lautan.

Bukan itu saja, mereka juga sudah berusaha bernegosiasi dengan Rasulullah supaya toleran dengan agama mereka. Sekali-sekali mereka menyembah Allah bersama Rasulullah, di waktu lain Rasulullah diharapkan juga mau menyembah tuhan mereka. Tentu saja hal itu ditolak dengan tegas oleh Rasulullah dan dikuatkan lagi dengan wahyu dari langit.

Pada kali ini mereka berusaha membujuk Rasulullah dengan cara yang jauh lebih halus. Mereka berkata kepada beliau: 

"Wahai Muhammad, ke sinilah! Usaplah tuhan-tuhan kami ini sedikit saja. Kami berjanji akan masuk ke dalam agamamu setelah itu".

Kali ini permintaan mereka tidak macam-macam. Hanya sekedar mengusap patung mereka sedikiiiiiiiiiit saja. 

Rasulullah manusia yang mempunyai hati paling lembut. Beliau tidak ingin kaumnya berpecah. Beliau menginginkan sekali keislaman mereka. 

Hampir saja Rasulullah cenderung untuk melakukan hal itu. Untunglah beliau yang bersifat "ma'shum" dipelihara oleh Allah dari kesalahan. Segera Jibril datang membawa wahyu mencegah dan memperingatkan Rasulullah:

"Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.

Dan kalau Kami tidak memperkuat hatimu, nisacaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

Kalau terjadi hal demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu siksaan berlipat ganda di dunia ini dan begitu pula siksaan berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (Al Isra': 73-75)

Dari riwayat di atas bisa diambil perbandingan dengan hukum mengucapkan selamat natal. Tadabburilah ayat ini dengan hati terbuka!

Permasalahannya barangkali kita anggap sederhana. Inikan bukan masalah aqidah atau ibadah, ini hanya urusan mu'amalah. Interaksi sesama manusia. 

Awalnya sih begitu.

Tapi setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, akhirnya kita tidak sadar, sudah membaur tanpa jelas batas pemisah antara kita dan mereka. 
Pembahasaannya sangat memukau. Kerukunan beragama. Toleransi antar umat beragama. Persatuan dan kesatuan. Dan sebagainya. 

Tidakkah kita menyadari hari demi hari ketercampuran itu semakin kentara. Awalnya kita bicara masalah mengucapkan selamat natal. Berlanjut menghadiri pesta natal. Terus lanjut ikut misa dengan mereka. Akhirnya......silahkan dilanjutkan!

Tidakkah kita melihat umat Islam ikutan bangga dengan simbol-simbol mereka? Seperti memajang pohon natal di tokonya. Sekalipun niat awal untuk menarik para pembeli. Memakai topi santa claus, dsb.

Tidakkah kita merasa khawatir bila girah keislaman ini sedikit demi sedikit terkikis dari hati kita. Tidakkah kita cemas bila generasi pelanjut memandang semua agama sama saja. Boleh pilih-pilih dan gonta-ganti bagaikan memilih menu makanan dan berganti pakaian?

Diawali dengan pandangan sepele. Selangkah-demi selangkah masuk perangkap. Akhirnya hanyut tanpa sadar. 

Takutnya sadar baru muncul ketika malaikat Maut datang menyapa. Tiada arti bila taubat di dalam neraka.

Ucapkan no untuk ungkapan "selamat natal"! 

"Bagimu agamamu dan bagiku agamaku" (Al Kafirun: 6)

Selasa, 21 Mei 2013

MISTERI USIA 60 TAHUN

Tidak banyak orang berkesempatan hidup hingga melampaui usia di atas 60 tahun. Jika kita mencapainya maka BERWASPADALAH karena inilah saat yg menentukan akhir sebuah perjalanan seseorang. Akhir yg baik (husnul khatimah) atau akhir yg mengenaskan (su'ul khatimah).

Rasulullah saw bersabda, "Allah telah memberikan udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya, sehingga mencapai usia enam puluh tahun." (HR. Ahmad).

Dan Rasulullah saw juga bersabda : "Sesungguhnya amal perbuatan dinilai sesuai dengan bagian akhirnya"(HR. Bukhari).

Rasulullah saw bersabda,“Pertarungan maut itu berada diantara usia enam puluh tahun hingga tujuh puluh tahun.“ (HR. Bukhari)

Fudhail bin Iyyadh pernah berkata kepada seseorang lelaki, “Berapa tahun usiamu?“
Kemudian orang itu menjawab, “Enam puluh tahun.“

Lalu Fudhail berkata,“Semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabbmu, nyaris saja engkau sampai tujuan.“

Lelaki itu kemudian menyahutnya, “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.“

Fudhail lalu menanyakannya,“Engkau mengetahui tafsir dari kalimat itu?“

Lelaki itu menjawabnya,“Tolong tafsirkan kalimat itu untukku, wahai Abu Ali. “

Fudhail pun lalu mentafsirkannya,“Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah, dan bahwa dia pasti akan berpulang kepada Rabbnya, maka hendaklah ia menyadarinya bahwa ia pasti akan berdiri dihadapan Allah. Barangsiapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggungjawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggungjawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak “.

Lelaki itu kemudian menanyakan,“Lalu, bagaimana jalan keluarnya?”

Fudhail menjawab,“Mudah saja.“
Lelaki itu menyahutnya, “Mudah itu yg bagaimana?“

Fudhail menjelaskannya,“Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu. Janganlah engkau berbuat keburukan pada masa yang tersisa, karena segala perbuatanmu di masa lampau dan yg akan datang itu akan diperhitungkan di sisi-Nya.“

Dikutip dari milis duat oleh aidilheryana.com@gmail.com 

Jumat, 26 April 2013

Belajar dari Calon Gubernur PKS Maluku Utara


“Melihat wajahnya saja sudah tampak aurah cinta yang beliau pancarkan, ketika suasana politik masyarakat Maluku Utara yang di kenal “keras”, kader PKS Ini hadir dengan cinta dalam setiap momentum kepemimpinannya, beliau menghadirkan sesuatu yang baru dalam peta perpolitikan di Maluku Utara, “dakwa dengan cinta” KH Abdul Gani Kasuba, Lc telah memulainya jauh sebelumnya”...
1 Juli 2013 adalah waktu yang istimewa bagi masyarakat Maluku Utara, di tanggal itulah masa depan baru Maluku Utara akan di tentukan, pemilihan Gubernur Maluku Utara periode 2013-2018 yang di jadwalkan KPU di tanggal 1 Juli 2013 ini tentu  mengingatkan kita akan Pilgub Malut 2007 silam yang “panas” dan “Keras” karena membutuhkan waktu yang lama dalam penetapan siapa pemenang Pilgub saat itu.
Hari ini tentu masyarakat tidak menginginkan hal itu terulang lagi, harapan besar dengan hadirnya para calon gubernur yang memiliki track record baik menjadi dambaan masyarakat. Salah satu figur calon yang perlu kita belajar adalah KH Abdul Gani Kasuba atau lebih di kenal dengan AGK, calon PKS ini tentu sedikit berbeda di bandingkan dengan calon yang lain, karena beliau :

Pribadi Santun dan Rendah Hati
Siapa yang tidak mengenal gaya kepemimpinan AGK, Wakil Gubernur Maluku Utara, dan Mantan Anggota DPR PKS ini selalu tampil santun dan rendah hati, beliau selalu tampil apa adanya.
Tahun 2011 lalu Ketika hasil survei menempatkan AGK sebagai figur yang memiliki popularitas teratas menandingi figur lainya, Politisi senior PKS ini tak sedikitpun berbangga diri bahkan legowo jika tidak di calonkan PKS. 
Hingga hari ini ketika Keputusan DPP PKS yang mencalonkan AGK Sebagai Calon Gubernur Malut 2013-2018, kesederhanaan dan Sifat rendah hati masih tetap melekat dalam diri beliau, itu terlihat dari bagaimana cara pandang beliau ketika melihat dan mengomentari Pilgub Malut nanti ."Saya berharap agar ke depan masyarakat dapat memahami bahwa politik tidak selamanya identik dengan bagi-bagi uang, saling memfitnah, adu domba, caci maki dan berbagai praktek kotor lainnya. Politik sebagai seni untuk mendapatkan kekuasaan sebenarnya yang bisa di bangun dengan cara yang lebih baik, santun, bermoral serta terbebas dari pengaruh uang dan materi (AGK).
Politik Santun yang dibangun AGK sangat nampak selama menjabat wakil Gubernur Malut 5 (lima) tahun terakhir, meski Gubernur Maluku Utara beberapa kali terseret isu Korupsi, AGK tidak memanfaatkan itu untuk kepentingan Jabatan pribadinya akan tetapi AGK senantiasa bekerja menjaga Kestabilan jalannya pemerintahan hingga saat ini.

Pemimpin Yang Dekat Dengan Rakyat
Sebagaimana diketahui Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km². Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km² (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan. terdiri dari 395 pulau besar dan kecil. Dengan medan Geografis yang di dominasi Wilayah Perairan dan Pulau-pulau tentu membutuhkan energi dan Anggaran besar bagi seorang untuk Menjangkau masyarakat.
Akan tetapi itu tidak berlaku bagi AGK, Politisi PKS ini telah mengelilingi Maluku Utara dan tercatat 80% Desa  di Maluku Utara  bahkan lebih telah beliau datangi, tak mengenal ombak maupun badai lautan. Itulah sebabnya masyarakat mengenal AGK sebagai sosok pemimpin yang paling bersahaja dengan masyarakat, beliau selalu hadir dalam setiap acara di daerah baik acara resmi maupun tidak resmi dan dengan sosok yang penuh kepedulian terhadap masyarakat.
Bahkan kepedulian AGK kepada Rakyat Kecil sampai pernah mengajak salah satu warga masyarakat yang berjalan kaki saat itu untuk menumpang mobil dinas Wakil Gubernur bersamanya.
Dalam Dialog Menuju Maluku Utara 1 yang diselenggarakan dan  disiarkan Langsung Oleh Gamalama TV beberapa waktu lalu, AGK berkomitmen untuk terus bersama Rakyat dan Pemberantasan KKN. Dimana hal  ini telah beliau lakukan dan buktikan dengan Laporan Keuangan selama menjabat Wakil Gubernur Maluku Utara 2007-2013 sebagai Laporan Keuangan yang paling bersih dan tak ada kejanggalan..
Ditengah politik bangsa ini yang di kenal “keras” dan “menyeramkan”, hari ini kita belajar dari calon gubernur PKS di Maluku Utara, tentang politik santun dan berwibawa, tentang politik penuh cinta, tak banyak orang-orang seperti mereka, semoga mereka di berikan kesempatan untuk memimpin Negeri ini..

Allahualam bissawab


Kamis, 11 April 2013

Puisi Kahlil Gibran


Kasihan bangsa
yang mengenakan pakaian
yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum
yang tidak ia panen,
dan meminum susu
yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa
yang menjadikan orang dungu
sebagai pahlawan
dan menganggap penindasan penjajah
sebagai hadiah.

Kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya
ketika tidur,
sementara menyerah padanya
ketika bangun.

Kasihan bangsa
yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan
di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada
di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa
yang negarawannya serigala,
filosofnya gentong nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan terompet kehormatan,
namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain
dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu,
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa
yang terpecah-pecah,
dan masing-masing pecahan
menganggap dirinya sebagai bangsa.





Karya : Kahlil Gibran

Senin, 08 April 2013

Tips Menghafal Al-Qur'an


MENGHAFAL AL-QUR'AN, INI TIPS DARI IMAM SYAIKH SA'AD AL-GHAMIDI

Islamedia - Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syekh Saad al-Ghamidi mengungkapkan menghafal Alquran butuh proses dan perlu niat serta kesabaran. Ia mengingatkan, menghafal Alquran harus diperkuat dengan program lanjutan yakni kajian dan pehaman Alquran.

Menurut Syekh Saad al-Ghamadi, memahami Alquran tak kalah penting dengan menghafal. ”Memahami wajib dan menghafal sunat,” katanya kepada sejumlah wartawan beberapa waktu lalu, termasuk Republika di Jakarta.

Menurut dia, menghafal Alquran butuh niat dan kesabaran. ''Saya menghafal Alquran tidak sebentar. Perlu waktu lima tahun. Di sela-sela itu, penempaan niat terus dibutuhkan,'' jelasnya.

Ada kalanya niat dan semangat itu kendor. Perbarui terus niat. Ingat dan terus motivasi diri, antara lain dengan pahala. Rasulullah saw bersabda:”Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Alquran di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR Abu Daud dan Turmudzi).

Ia mengatakan, Imam as-Syanqithi menekankan jangan menghafal Alquran untuk ajang perlombaan duniawi, tetapi guna berkompetisi di akhirat. Memang proses itu tidak mudah. Tapi ingat, otak kita itu ibarat mesin.

Jika hari ini hanya satu ayat, besok akan bertambah terus. Mesin akan terus berjalan. Jangan lupa, sediakan waktu untuk menghafal satu atau dua jam tiap hari.

Syeikh Saad al-Ghamidi mengingatkan ulangi terus hafalan Anda. ''Guru saya berpesan, tiap surah yang dihafal harus diulangi lebih dari satu kali. Jika perlu 20 atau bahkan 40 kali. Libatkan teman utuk mengulang hafalan bersama,'' jelasnya.

Di Dammam, Arab Saudi, kata al-Ghamidi, tradisi ini berjalan. Keberadaan teman dalam menghafal juga perlu.''Ingat, mengulang hafalan tak kalah rumit dibanding menghafal,'' jelasnya.

Seorang hafiz, kata dia, harus menjadi pionir akhlak. Rasul bersabda, ''Sebaik-baik dari kalian ialah mereka yang belajar Alquran dan mengajarkannya.''

Menurut dia, seorang penghafal Alquran harus tawadhu, berbakti pada orang tua, dan berhias dengan akhlak terpuji. Jangan salah, kata dia, seorang penghafal Alquran juga manusia. Bisa saja berbuat salah.

''Ini bukan berarti, seorang hafiz harus kaku dalam kehidupannya. Silakan berinteraksi sewajarnya. Bermainlah dengan anak-anak, bercandalah, berolahragalah, dan beraktivitas seperti biasa,'' jelasnya mengingatkan. [rol/IM]


 — 

Selasa, 02 April 2013

Tips : Amanah dan Profesional


Amanah dan Profesional


Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar


Salah satu perang besar dan paling bersejarah di zaman Nabi Muhammad SAW adalah perang Uhud. Pada perang Uhud, Nabi Muhammad SAW menurunkan 700 anggota pasukan, sedangkan kaum musyrikin menurunkan 3000 orang pasukan. Dari segi jumlah pasukan, peperangan itu memang tak seimbang. Kaum muslimin terbatas jumlahnya.

Namun sebagai antisipasi, Nabi menempatkan 50 pemanah di atas bukit Uhud. Mereka bertugas melindungi pasukan kaum muslimin dari jarak jauh, sekaligus menahan serangan dari arah belakang (pintu masuk) medan pertempuran. Nabi lalu menunjuk Abdullah bin Zubair sebagai komandan pasukan berpanah ini.
Beliau juga berpesan, apapun yang terjadi pasukan berpanah tidak boleh meninggalkan lokasi tersebut, kecuali jika mendapat aba-aba dari Nabi.

Singkat cerita, kedua pasukan berada di medan laga. Kaum musyrikin Quraisy pun bersiap untuk menyerang. Mereka datang dengan kekuatan 3.000 personil, seratus orang di antaranya adalah pasukan berkuda.
Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid yang ketika itu belum masuk Islam. Sedangkan di sebelah kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl yang juga belum masuk Islam pada saat itu.

Namun karena kaum muslimin berperang dengan alasan jihad dan strategi perang yang telah disusun oleh Nabi, kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Perlahan tapi pasti pasukan musyrikin mulai kewalahan. Akhirnya mereka melarikan diri meninggalkan gelanggang pertempuran, termasuk meninggalkan harta dan barang-barang berharga milik mereka.

Melihat kejadian ini, pasukan berpanah dari pihak kaum muslimin di atas bukit Uhud, lupa dengan tugas yang diamanahkan Rasulullah. Lalu mereka berebutan turun bukit meninggalkan markas mereka. Mereka tergoda oleh harta yang ditinggalkan kaum musyrikin yang tunggang langgang melarikan diri.
Mereka berebut ingin mendapatkan harta rampasan perang yang ditinggalkan kaum musyrikin. Komandan pasukan berpanah Abdullah bin Zubair berusaha mengingatkan mereka: “Apakah kamu lupa pesan Rasulullah?” ujarnya.
Namun perintah Abdullah bin Zubair tak mereka hiraukan. Mata mereka telah silau oleh godaan harta.
Kaum musyrikin melihat peluang ini, bergerak cepat dan mengambil posisi yang ditinggalkan pasukan berpanah kaum muslimin. Kondisi semula menjadi terbalik, kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin.
Beberapa sahabat nabi yang masih bertahan di bukit Uhud berusaha bertahan dan melawan. Namun karena jumlah mereka hanya beberapa orang saja, perlawanan mereka bisa dipatahkan, mereka pun gugur satu per satu.
Para sahabat dan pasukan kaum muslimin kocar-kacir. Kaum musyrikin terus merangsek maju mendekati posisi Rasulullah. Mereka berhasil memecahkan helm besi milik Nabi dan melukai kepala beliau.
Bahkan beberapa kali beliau terperosok ke dalam lubang yang digali oleh Abu Amir Fasiq dan melempari beliau dengan batu-batuan. Nabi mengalami luka-luka dan cedera yang cukup parah, gigi seri Nabi juga patah dalam peristiwa itu, hampir saja beliau wafat di sana.

Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat pahit bagi umat Islam. Kata kunci dalam peristiwa itu adalah tidak amanah dan tidak profesional. Pasukan berpanah tidak amanah, karena mereka melalaikan amanah diberikan nabi untuk tidak meninggalkan posisinya.
Mereka juga tidak profesional karena tidak bekerja secara baik sesuai dan mudah terpengaruh godaan. Godaan dalam peristiwa ini adalah harta.

Dalam Al Quran dikatakan, Allah sengaja menguji umat Islam dalam peristiwa itu. Seperti firman Allah dalam Surat Ali Amran: 152, Allah menguji manusia dengan hal-hal yang disukainya dan mereka berpaling dari Rasul-Nya saat diuji.

Dalam ayat itu, Allah menegaskan, sebagian manusia memikirkan kehidupan di akhirat kelak, namun sebagian manusia lainnya, hanya memikirkan dunia.

Kesukaan yang kuat menggoda manusia itu diantaranya harta, belakangan ditambah lagi dengan wanita dan tahta. Masalah klasik itu sama sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang. Karena penyebabnya sama, seharusnya dengan mudah kita bisa mengatasinya.

Harta, jabatan dan wanita (istri) adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, jaga dan jalankan dengan baik sehingga semua itu menjadi nikmat dan rahmat, bukan sebuah laknat yang akan menyengsarakan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Namun godaan selalu dengan mudah memperdaya manusia yang lemah imannya.

Tak peduli apapun jabatan atau pekerjaan seseorang, berlakulah amanah dan profesional. Jika ia seorang pejabat, berlakulah amanah dan pofesional sebagai seorang pejabat, agar sukses dalam melaksanakan pekerjaan dan bermanfaat bagi umat.

Jika hal itu dilakukan, insya Allah ia akan diberikan amanah yang lebih besar lagi, tidak perlu kasak-kusuk dan melakukan cara-cara yang tidak benar.

Begitu juga jika ia sopir, jalankan pekerjaan itu secara profesional dan amanah. Bisa kita bayangkan jika seorang sopir bis umum misalnya, jika tidak menjalankan amanah dan profesional. Ia mabuk dan ugal-ugal membawa bis atau mengantuk di jalan yang padat lalu lintas, tentu nyawa dan kerugiaan harta benda yang menjadi taruhannya akibat kecelakaan yang berpeluang besar terjadi.

Nabi juga berpesan agar suatu pekerjaan atau jabatan diberikan kepada ahlinya. “Berikanlah suatu pekerjaan kepada ahlinya, bila suatu pekerjaan diberikan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Maksudnya berikan jabatan atau pekerjaan itu kepada orang yang bersikap amanah dan mampu bekerja secara profesional.

Banyak contoh yang telah terjadi, akibat lalai, kesalahan kecil yang dianggap sepele dapat menimbulkan dampak yang besar bahkan dahsyat.

Sopir yang mengantuk akibat malam sebelumnya begadang menonton pertandingan sepakbola misalnya, bisa menimbulkan kecelakaan beruntun yang menyebabkan kehilangan puluhan nyawa. Atau bisa juga menimbulkan masalah nasional, keguncangan sebuah negara, jika ia seorang sopir presiden.
Atau kesalahan staf mendisposisi surat misalnya, bisa berdampak dicopotnya seorang pejabat dan lalu merebak menjadi isu regional dan berkembang lagi menjadi isu nasional! Penyebabnya hanya masalah sepele, lalai dan tidak profesional.

Di lingkungan Pemprov Sumbar saya sudah berkali-kali mengingatkan agar kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah) berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan, sekecil apapun. Peringatan itu dilanjutkan lagi dengan surat edaran.

Berikutnya saya mengumumkan akan memberikan sangsi kepala SKPD yang melakukan maksimal 10 kali kesalahan kecil (terutama dalan adminitrasi surat-menyurat). Tentu saja tak ada ampun bagi yang melakukan besar dan fatal, sangsi menjadi keputusan tetap setelah diproses melalui Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat).

Alhamdulillah hal ini telah menimbulkan dampak yang positif, kepala SKPD menjadi ekstra hati-hati dan berupaya bekerja lebih profesional.

Semoga proses itu terus berjalan dan dipatuhi, jajaran Pemerintah Provinsi Sumatra Barat bisa menjalankan amanah dan bekerja secara profesional, mampu meniadakan kesalahan dan kelalaian sekecil apapun serta mampu memberikan pelayan yang maksimal untuk kejayaan dan kemajuan Sumatra Barat di masa depan. Amin… (*)

Singgalang 27 Maret 2013


Kamis, 28 Maret 2013

Tips : Untuk Para Yunior dan Senior


Penjelasan Ayat "Kabura Maqtan" | @salimafillah



Semoga Allah bimbing, semoga Dia karuniakan tuk kita semua ilmu yang barakah; berikut tentang "Kabura Maqtan"
  1. Banyak terfahami ayat "Kabura Maqtan" {QS61:2-3} sebagai ancaman bagi yang menyeru tapi belum melaksanakan. Sebagai renungan; ia baik

  2. Tapi tak seyogyanya ia menghalangi kita untuk "Berilmu Sebelum Bicara & Beramal", kemudian menyampaikan ilmu pada yang memerlukannya.

  3. Demikianlah Ibn Taimiyah yang tak menikah tetap membahas Munakahat dalam Fatawa; & Sayyid Quthb tetap mentafsir ayat-ayat rumahtangga.

  4. Sebab pada asalnya {QS61:2-3} bukan tentang halangan itu; melainkan soal kekokohan barisan jihad. Bersambung makna dengan ayat ke-4.

  5. "Hai orang-orang beriman; mengapa kalian katakan apa yang tak kalian kerjakan? Amat besar murka di sisi Allah jika.. dst." {QS61:2-3}

  6. Tafsir kedua ayat ini terkait dengan Asbab Nuzul-nya. Setidaknya ada 2 pendapat mengenai hal ini. Yang pertama dari Ibn 'Abbas, Rd'A.

  7. Bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang kala masih di Makkah bersemangat memerangi Musyrikin; sedang "Kuffu Aidiyakum"

  8. Tetapi ketika di Madinah & jihad diperintahkan; mereka justru mengajukan 'udzur sebab perang itu tak seperti yang mereka bayangkan.

  9. Mereka harus berhadapan dengan keluarga & kerabat tercinta. Berat. Maka Allah menegur mereka dengan lembut & tegas di {QS61:2-3} ini.

  10. Cermin tuk kita; junior yang terlalu terbakar idealita & belum terbentur realita pelik dalam da'wah agar belajar bijak & tak congkak.

  11. Pemahaman kedua; dari Ibn Mas'ud, Rd'A. Bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang masuk Islam lebih awal dibandingkan yang lain.

  12. Di antara mereka ada yang menyebut-nyebut amat beratnya derita & besarnya pengorbanan yang mereka berikan dalam menegakkan Islam.

  13. Allah menegur mereka agar terhindar dari 'penambahan cerita' & dari keadaan kini nan tak sesuai dengan apa yang dulu mereka tekadkan.

  14. Juga agar tak mengecilkan hati & membuat tak nyaman sahabat lain yang baru masuk Islam hingga merasa tak berharga & belum berjuang.

  15. Cermin kita; agar para senior tak mengungkit 'jayanya' masa lalu apalagi jika ditujukan untuk meremehkan & mengecilkan para junior.

  16. Agar dihindari kalimat, "Ente kagak ngerasain waktu kite awal dulu Tong; ngaji aja suse; tempatnye jauh, mesti atu-atu datengnye!"

  17. Kedua makna ini pelajaran penting bagi junior maupun senior; agar senantiasa berjihad di jalan Allah dengan menjaga harmoni barisan.

  18. Itulah makna yang diikat ayat ke-4; "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang rapi..

  19. Seakan-akan mereka adalah bangunan yang tersusun kokoh." WaLlahu A'lam. Demikian; semoga bermanfaat.

Senin, 18 Maret 2013

TIPS : BEKERJA ATAU IBU RUMAH TANGGA?


Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga ya? kali ini saya publish Tulisan Istri Saya yang beberapa waktu lalu (Sabtu 16 Maret 2013) di Muat di Harian Malut Post...

BEKERJA ATAU IBU RUMAH TANGGA?
Oleh : Ati’ah Dyah Lestari, S.S.T.

Bismillahirrohmanirrohim.
Perempuan, selalu menarik, dalam hal apapun. Termasuk membicarakan tentang kodratnya sebagai seorang isteri sekaligus ibu. Perbincangan mengenai bekerja atau menjadi ibu rumah tangga selalu menjadi isu 'hot'  yang tak kunjung habis. Sebab, masing-masing peran, entah sebagai wanita bekerja atau irt, memiliki ruang 'dilema'nya masing-masing. Saya jadi teringat, sebuah adegan di sinetron, saat seorang mertua meminta menantu perempuannya berhenti bekerja.
"Saya masih bingung Bu, kalau saya tidak bekerja, saya ngapain ya di rumah?"
"Ya banyak, kamu bisa shopphing, perawatan di salon, memasak untuk suamimu, dan mengurus rumah"
Dua kata dalam adegan tersebut sengaja saya beri warna biru. Saya sempat tersenyum saat mendengar dialog ini, bersenang-senang, bersantai apalagi bisa perawatan dan shopping, itu semua dambaan setiap wanita. Tetapi, hakikat dalam tulisan ini tidak menuju kesana. Kita akan berbicara tentang ruang 'dilema' yang senantiasa digundahkan oleh perempuan-perempuan, termasuk saya.
Menurut saya, secara kodrati, seorang ibu pekerja atau ibu rumah tangga, kedua status tersebut tidak dapat dipilah-pilah, keduanya menyatu. Seorang ibu yang bekerja (dalam rangka mencari nafkah) juga tetap mengurus rumah. Kita telah banyak menyaksikan ibu-ibu pekerja yang begitu cekatan mengurus keluarganya, bangun pagi-pagi, membuatkan sarapan, mengurus cucian dan banyak lagi. Sebaliknya, seorang ibu rumah tangga, jelas ia juga seorang yang bekerja. Seorang ibu rumah tangga, bahkan tidak memiliki waktu untuk berhenti, di sepanjang harinya, pekerjaannya di rumah, senantiasa bertambah dan menanti.
Kalau begitu, apa yang membuat ruang 'dilema' itu muncul? dilema itu muncul, saat perbincangan mengarah kepada pemenuhan pendidikan dan hak anak. Seorang ibu yang bekerja, dihadapkan pada persoalan bagaimana mengasuh anak, memenuhi ASInya, dan lebih dari itu, memenuhi kebutuhan aspek psikologisnya. Oleh karena itu, banyak wanita bekerja yang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti. Tetapi, permasalahannya, mungkin tidak hanya sampai disitu, sebab kenyataannya mendidik anak bukanlah persoalah mudah sehari selesai. Atau sekedar berdebat panjang tentang status sang ibu, tetap bekerja atau menjadi ibu rumahan saja. Maka, sekedar berbagi pemikiran saja, mungkin ada baiknya kita merenungkan kembali hal-hal berikut ini:

1. Untuk Apa Saya Bekerja?
Islam sangat memuliakan kedudukan wanita, hingga dengan terang benderang menyatakan bahwa kewajiban mencari nafkah diberikan kepada suami. Tetapi, dewasa ini, seorang isteri pun banyak yang turut ikut bekerja (mencari nafkah) dengan beragam alasan. Jika pun demikian, maka coba fikirkan baik-baik, dengan alasan apa kita harus bekerja (mencari nafkah) membantu suami. Baik bekerja maupun di rumah saja, masing-masing memiliki kebaikan. Dengan bekerja, selain mandiri secara finansial, membantu keuangan di rumah, memiliki banyak relasi, mengenal dunia luar, menjadi seorang profesional dan banyak lagi.
Tetapi, tidak perlu khawatir, jika pilihan itu jatuh, untuk menjadi ibu rumah tangga. Banyak kebaikan juga tersimpan disana, kebersamaan bersama anak, waktu yang banyak untuk mengurus dan melayani keluarga, lalu banyak lagi. Menjadi seorang ibu rumah tangga juga tidak serta merta membuat kita tidak mandiri secara finansial. Seorang IRT juga bisa mandiri secara finansial tanpa harus kehilangan momen berharga bersama anak-anak dan keluarga. Membuka warung/toko, mengajar privat di rumah, berjualan di dunia maya, menulis, hanyalah satu dari sekian banyak pilihan yang bisa dipilih. Seorang IRT juga bisa memiliki banyak relasi dan dunia luar, saat bisnis rumahannya bertambah maju, ikut aktif berperan dalam perkumpulan ibu-ibu semisal arisan, pengajian, PKK, Posyandu atau banyak lagi.

2. Air Susu Ibu atau Air Susu Sapi?
Jika saya ditanya, apa yang hendak saya lakukan jika saya bukan lagi seorang pegawai? barangkali, saya akan membuka sekolah, untuk anak-anak saya dan banyak anak lagi di luar sana. Membuka daycare, tempat penitipan anak atau semacam itu, bayangan yang sempurna dibenak saya. Lalu, saya sekalian saja membuka toko buku, atau warung kelontongan sederhana juga tak apa.
Bukan bermaksud mendiskreditkan seorang pegawai atau karyawan, bukan begitu. Tetapi, saya hanya ingin mengajak kita semua, untuk memiliki rencana. Jika pun tetap ingin bekerja, jadilah pengusahanya. Jadilah pemilik waktunya. Bagi yang telah memutuskan untuk berhenti bekerja, jangan khawatir, anda masih bisa memikirkan pekerjaan apa yang tepat sebagai seorang irt yang mandiri. Pakailah modal yang telah anda himpun selama bekerja, untuk membuka usaha kecil-kecilan, atau sekalian saja usaha besar jika memang modalnya besar. Bagi ibu-ibu yang bekerja full sebagai ibu rumah tangga, yang saat ini tengah kerepotan mengurus si kecil atau sibuk dengan banyaknya anak-anak, sehingga belum bisa merealisasikan keinginan untuk mandiri secara finansial. Berfokus saja dulu mengurus keluarga (jika semua kebutuhan telah terpenuhi oleh suami), kemudian bergabunglah dengan komunitas yang membangun. Olah setiap kreativitas yang dimiliki untuk dikembangkan.
Bagi yang tetap bekerja (mencari nafkah) atau apapun alasan yang mendasarinya. Ibu-ibu yang menjadikan profesinya sebagai ladang amal. Guru, perawat, dokter, dosen atau pegawai pemerintahan atau semacam itu, jika memang kesempatan, kemampuan dan keadaan memang mendudukkan kita berada disana, jalani dan syukuri. Resiko selalu ada, baik sedang bekerja atau dirumah saja.
Saya membaca status seorang ibu pekerja yang hari ini sedang kelabakan, karena hendak dinas luar, dengan catatan tidak diperkenankan membawa anak. Padahal, anaknya masih berumur bulan. Gundah gulana si ibu tentu pernah juga dirasakan oleh ibu-ibu pekerja kantoran yang lain. Saya jadi teringat status saya beberapa bulan lalu, tentang cuti melahirkan di negara kita yang hanya tiga bulan. Sementara di negara-negara lain telah lebih bijak dengan memberikan jangka cuti yang lebih panjang, untuk memenuhi kebutuhan bayi akan ASI. Tetapi, banyak juga tanggapan yang tidak sependapat dengan itu (maksud saya, jika negara kita juga ikut menerapkan cuti lebih dari tiga bulan), dan ucapan itu terlontar pula dari seorang perempuan. Maka, jangan heran jika beberapa peraturan yang dibuat terkadang tidak menguntungkan bagi ibu, yang akhirnya berujung pada tidak terpenuhinya hak anak.
Tetapi, para ibu di tahun 2012 lalu, begitu berbahagia dan berbunga-bunga setelah muncul PP ASI yang baru. Dan bagi saya secara pribadi, hal ini sangat baik dan membuat peraturan cuti melahirkan pegawai menjadi berimbang. Dalam Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2012 Tentang ASI, dimana dengan jelas menguraikan tentang tanggung jawab pemerintah tentang pencapaian program pemberian ASI Eksklusif yang tertuang dalam Pasal 3, 4 dan 5:
Pemerintah bertanggung jawab membina, mengawasi, serta mengevaluasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan kesehatan, Tempat Kerja, tempat sarana umum, dan kegiatan di masyarakat.
Maka, seharusnya tidak boleh ada pelarangan saat seorang ibu membawa bayi ke tempat kerja, meski hal ini nampaknya masih begitu tabu dan berlawanan dengan mainstream yang telah melekat di masyarakat. Sehingga tidak perlu lagi, ada ibu-ibu yang harus bercucuran airmata saat harus berangkat bekerja.
Pasal 30
(1) Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus mendukung program ASI Eksklusif.
(2) Ketentuan mengenai dukungan program ASI Eksklusif di Tempat Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perusahaan antara pengusaha dan pekerja/buruh, atau melalui perjanjian kerja bersama antara serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha.
(3) Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui dan/atau memerah ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 34
Pengurus Tempat Kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di Tempat Kerja.
Pasal 35
Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib membuat peraturan internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.
Jika membaca cuplikan dari PP tersebut, maka jelas bahwa seharusnya tempat kerja wajib memberikan fasilitas tempat menyusui, wajib memberi kesempatan memberikan ASI Eks saat jam kerja, mendukung tercapainya program ASI Eksklusif.
Pasal 36
Setiap pengurus Tempat Kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (3), atau Pasal 34, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagi ibu-ibu pekerja yang dilema terhadap peraturan yang membelenggu seperti kasus yang dihadapi sang Ibu yang hendak dinas luar tadi, secara hukum dapat mengajukan keberatan, gugatan atau semacamnya berdasarkan PP ini, yang dikuatkan dalam pasal 36.

Butuh perjuangan untuk dapat merealisasikan peraturan Tuhan. Saya katakan demikian, sebab peraturan menyusui ini sendiri sudah jelas-jelas tertuang dalam Al-Quran. Tetapi, syukurlah jika pemerintah kita telah cukup peduli dengan membuat Peraturan Pemerintah. Dengan begitu, saat terjadi ketidaksepahaman, ibu pekerja masih dapat berkilah dengan payung hukum negara.
Tentang ASI inilah adalah ruang 'dilema' bagi ibu pekerja, melahirkan keresahan yang begitu dalam tentang pilihan, bekerja atau ibu rumah tangga?
Bagi saya, keduanya tidak ada bedanya, sama-sama hebat dan memiliki sisi baik.
Jadi tidak perlu ada dikotomi atau membanding-bandingkan kondisi keduanya, baik yang saat ini berstatus ibu pekerja maupun ibu rumah tangga.
Keduanya sama hebatnya!!

Wallohu a'lam bish showab

Dakwah Itu……………………


Dakwah Itu……………………

Dakwah itu, membina, bukan menghina…
Dakwah itu, mendidik, bukan 'mendelik'…
Dakwah itu, mengobati, bukan melukai
Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…
Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…
Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…
Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan..
Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar....
Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar ..
Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…
Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh...
Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…
Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif..
Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…
Dakwah itu, realistis, bukan fantastis
Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata.
Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…
Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji...
Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan..
Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat...
Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru..
Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…
Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat
Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan...
Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya..
Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran..
Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif….
Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan..  
Dakwah itu, memberi senyum manis J, bukan menjatuhkan vonis…
Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…
Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan..
Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…
Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…
Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…
Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…
Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…   
Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…
Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…
Dakwah itu, kita mengatakan.. 'aku cinta kamu'… bukan… 'aku benci kamu..'
Dakwah itu, kita mengatakan, 'Mari bersama kami…' bukan.. 'Kamu harus ikut kami...'
Dakwah itu, dapat di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran…. Dakwah bukan hanya di pengajian….!

Dakwah itu, ……asyik dah  ……… Mau ikutan?... Hayuu lah..! 

Riyadh, 1434 H

(dikutip dari milis duat oleh abdullah haidir )

Jumat, 01 Maret 2013

TIPS : SEDEKAH MESRA DI JUMAT YANG BERKAH


SEDEKAH MESRA DI JUMAT YANG BERKAH
Hatta Syamsuddin

Hari jumat memang berbeda. Rasulullah SAW pun menyebutnya dengan hari raya. Banyak amalan sunnah disyariatkan dengan pahala yang dilipat gandakan. Bahkan bukan hanya amalan yang terkait dengan ibadah dan sedekah, namun juga seputar kemesraan suami istri, atau lebih jauh lagi : berjimak (hubungan suami istri) di Jumat pagi.  Sebagian ada yang ragu-ragu tentang hal ini, sebagian yang lain menyambutnya dengan gembira dan bersemangat. Bahkan fenomena jumat mesra ini ditabuh begitu kencang di media sosial seperti facebook dan twitter. Akibatnya, banyak suami yang tambah menggebu, sebagaimana pula banyak istri yang malu-malu. Nah, perlu rasanya kita kupas sejenak tentang dalil dan hikmah dari aktifitas mesra suami istri khususnya di jumat pagi. Agar tak perlu lagi ada rasa ragu-ragu dan malu-malu dalam menjalaninya. 

Dalil berhubungan suami istri di hari Jumat
Para ulama berbeda pendapat seputar anjuran berhubungan suami istri di hari jumat. Mereka yang mendukung mengambil pendapat yang tersurat dan tersirat dalam beberapa hadits. Dua riwayat shohih menyebutkan secara tersirat (isyarat), dan ada dua riwayat lemah yang menyebutkan secara tersurat nan jelas. 

Pertama,  Riwayat Bukhori Muslim dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW  bersabda, "Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta... dan seterusnya (HR. Bukhari Muslim). Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dari hadits diatas sebagian ulama menyebutkan adanya isyarat anjuran berjimak di hari Jumat, agar dapat mandi janabah setelahnya.

Kedua, Riwayat Aus bin Aus ra yang berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa memandikan (ghosala) dan mandi (igthasala) pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun." (HR. Abu Dawud,  Al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad dan sanad hadits ini dinyatakan shahih). Kalimat ghosala atau memandikan dalam lafadz hadits di atas, banyak diartikan oleh sebagian ulama dengan artian : memandikan istrinya yaitu membuat istrinya mandi karena berhubungan badan sebelumnya.

Ketiga, Riwayat yang lebih spesifik namun tidak terlampau kuat, disampaikan oleh Imam Suyuthi dalam Tanwir Hawalik, yaitu hadits : “Apakah tidak mampu salah seorang dari kalian untuk menjimak istrinya setiap hari Jumat ?  Maka sesungguhnya ia akan mendapat dua pahala : pahala mandinya, dan pahala mandi istrinya. (HR Baihaqi dalam Syuabul Iman dari Abu Hurairah)

Keempat, Riwayat ini memberikan keutamaan secara khusus dan diibaratkan sebagai sebuah sedekah. Dari hadits ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bertanya pada seorang dari sahabat, beliau bertanya: “ Apakah engkau hari ini telah menjenguk orang sakit ? “. Sahabat tadi menjawab : “ belum”.  Rasulullah SAW bertanya : “ apakah sudah bersedekah”. Ia menjawab : “ belum”.  Rasul kembali bertanya: “ engkau sudah sholat jenazah?” . Ia menjawab kembali : “ belum”. Rasulullah SAW kembali bertanya : “ apakah engkau sudah berjimak dengan istrimu ? “. Ia menjawab : “ belum”. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan : “ Kalau begitu berjimaklah, karena itu sesungguhnya sedekah darimu bagi mereka (istrimu)”. (HR Thobroni dalam Al-Austah, Al-Haitsami mengatakan dalam kitab Majmu Zawaid : di dalam sanadnya ada an-Nashr bin Asim bin Hilal al-Bariqi yang aku tidak tahu, sedangkan sisanya adalah perawi terpercaya)

Nah empat riwayat diatas setidaknya yang menjadi acuan tentang anjuran bermesraan suami istri secara mendalam (berjimak), pada hari jumat pagi atau malam jumat. Tentu saja ini bukan sekedar soal hitam putih hukum dan dalil, karena secara umum ‘bersedekah’ kepada istri pada setiap waktu - kecuali yang terlarang seperti ramadhan, ihrom dan haidh-  adalah hal yang berpahala. Namun tentu perlu bagi kita untuk menelisik lebih jauh hikmah dari anjuran sedekah mesra di Jumat pagi. 

Hikmah Anjuran Berhubungan Suami Istri di Jumat Pagi
Tentu selain mendapatkan pahala kemesraan, ada beberapa hal yang menjadi hikmah dari anjuran mesra ini, para ulama seperti Ibnu Hajar juga menyebutkan beberapa hal, saya tambahkan dan lengkapi menjadi hal-hal sebagai berikut :

Pertama, Lebih menenangkan Jiwa sehingga lebih siap untuk beribadah 
Desakan gejolak seksual akan terasa sangat mengganggu bagi kaum pria, dan itu menjadi lebih tidak mengenakkan pada hari Jumat yang semestinya dioptimalkan dengan kekhusyukan beribadah. Karenanya gejolak tersebut perlu disalurkan lebih awal, agar jiwa lebih tenang pada hari yang tersisa.

Kedua, Lebih menundukkan pandangan saat di jalan
Diriwayatkan pada masa awal Islam kaum muslimah juga pergi keluar untuk mengikuti sholat Jumat berjamaah, karenanya hal tersebut menjadi ujian tersendiri bagi kaum laki-laki dalam menjaga pandangan di jalanan. Hari ini meskipun tidak banyak wanita yang mengikuti sholat Jumat di masjid, namun esensinya tak jauh berbeda karena di jalanan pun begitu mudah ditemui hal-hal yang mengganggu dan menggoda pandangan. Dengan telah berjimak di pagi hari maka hal-hal teknis semacam itu diharapkan bisa berkurang atau teratasi.

Ketiga, Lebih Sehat dan Bahagia di Hari Raya.
Hari Jumat adalah hari raya yang tidak hanya berisi ibadah semata, namun juga kebahagiaan nan penuh semangat. Karenanya dengan berhubungan badan suami istri di pagi hari, akan melahirkan sehat dan semangat yang berlebih untuk menyambut hari bahagia tersebut. Hal ini didukung dengan serangkaian penelitian soal tersebut, pakar kesehatan menyebutnya dengan morning sex. Dikatakan dalam sebuah situs kesehatan bahwa : "pasangan yang melakukan hubungan intim di pagi hari mampu meningkatkan suasana hati di siang hari. Tak hanya itu, hal ini juga mampu meningkatkan kesehatan kulit, rambut dan kuku. Estrogen kimia yang dilepaskan selama “sexy time” bisa membuat rambut lebih bersinar, kuku lebih kuat dan meningkatkan warna kulit. Para ahli juga mengatakan, tingkat testosteron pria mengalami lonjakan sepanjang malam saat tertidur, sehingga pagi hari sebenarnya para pria lebih cenderung berada dalam mood untuk bercinta. Bercinta di pagi hari juga membuat tubuh kita lebih sehat dan lebih bahagia, serta mampu membakar rata-rata 300 kalori per jam dan meningkatkan tingkat denyut jantung dan sirkulasi darah sambil menurunkan tekanan darah."

Nah, akhirnya tak ada alasan lagi untuk tidak menyambut hari Jumat dengan penuh riang gembira. Bukan hanya ada dosa-dosa kecil yang berguguran di janjikan, namun sebentuk kemesraan nyata nan berpahala juga telah menunggu untuk ditunaikan. Segera bacakan artikel ini dihadapan istri Anda tercinta ...

Semoga bermanfaat dan salam optimis. 

http://www.indonesiaoptimis.com/2013/03/sedekah-mesra-suami-istri-di-hari-jumat.html