Motivasi
Mereka yang beralasan tidak punya waktu adalah mereka yang membiarkan waktu mengatur hidupnya, bukan malah sebaliknya.
Motivasi
Masalah itu adil, ia datang kepada semua orang, tapi tidak dengan jalan keluar. Jalan Keluar hanya datang kepada mereka yang mencarinya.
Motivasi
Nasib baik tidak pernah salah memilih orang. ia memilih orang yang proaktif menjemputnya.
Motivasi
Hal yang perlu ditakuti saat mengkritik orang lain adalah ketika kita sendiripun tidak lebih baik dari mereka.
Motivasi
Jangan hanya tertarik dengan apa yang dicapai orang sukses, tertariklah dengan airmata yang mereka keluarkan untuk mencapainya.
Senin, 18 Maret 2013
TIPS : BEKERJA ATAU IBU RUMAH TANGGA?
Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga ya? kali ini saya publish Tulisan Istri Saya yang beberapa waktu lalu (Sabtu 16 Maret 2013) di Muat di Harian Malut Post...
Oleh :
Ati’ah Dyah Lestari, S.S.T.
Bismillahirrohmanirrohim.
Perempuan,
selalu menarik, dalam hal apapun. Termasuk membicarakan tentang kodratnya
sebagai seorang isteri sekaligus ibu. Perbincangan mengenai bekerja atau
menjadi ibu rumah tangga selalu menjadi isu 'hot' yang tak kunjung habis. Sebab, masing-masing
peran, entah sebagai wanita bekerja atau irt, memiliki ruang 'dilema'nya
masing-masing. Saya jadi teringat, sebuah adegan di sinetron, saat seorang
mertua meminta menantu perempuannya berhenti bekerja.
"Saya
masih bingung Bu, kalau saya tidak bekerja, saya ngapain ya di rumah?"
"Ya
banyak, kamu bisa shopphing, perawatan di salon, memasak untuk suamimu, dan mengurus
rumah"
Dua
kata dalam adegan tersebut sengaja saya beri warna biru. Saya sempat tersenyum
saat mendengar dialog ini, bersenang-senang, bersantai apalagi bisa perawatan
dan shopping, itu semua dambaan setiap wanita. Tetapi, hakikat dalam tulisan
ini tidak menuju kesana. Kita akan berbicara tentang ruang 'dilema' yang
senantiasa digundahkan oleh perempuan-perempuan, termasuk saya.
Menurut
saya, secara kodrati, seorang ibu pekerja atau ibu rumah tangga, kedua status
tersebut tidak dapat dipilah-pilah, keduanya menyatu. Seorang ibu yang bekerja
(dalam rangka mencari nafkah) juga tetap mengurus rumah. Kita telah banyak
menyaksikan ibu-ibu pekerja yang begitu cekatan mengurus keluarganya, bangun
pagi-pagi, membuatkan sarapan, mengurus cucian dan banyak lagi. Sebaliknya,
seorang ibu rumah tangga, jelas ia juga seorang yang bekerja. Seorang ibu rumah
tangga, bahkan tidak memiliki waktu untuk berhenti, di sepanjang harinya,
pekerjaannya di rumah, senantiasa bertambah dan menanti.
Kalau
begitu, apa yang membuat ruang 'dilema' itu muncul? dilema itu muncul, saat
perbincangan mengarah kepada pemenuhan pendidikan dan hak anak. Seorang ibu
yang bekerja, dihadapkan pada persoalan bagaimana mengasuh anak, memenuhi
ASInya, dan lebih dari itu, memenuhi kebutuhan aspek psikologisnya. Oleh karena
itu, banyak wanita bekerja yang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti.
Tetapi, permasalahannya, mungkin tidak hanya sampai disitu, sebab kenyataannya
mendidik anak bukanlah persoalah mudah sehari selesai. Atau sekedar berdebat panjang
tentang status sang ibu, tetap bekerja atau menjadi ibu rumahan saja. Maka,
sekedar berbagi pemikiran saja, mungkin ada baiknya kita merenungkan kembali
hal-hal berikut ini:
1. Untuk Apa Saya
Bekerja?
Islam
sangat memuliakan kedudukan wanita, hingga dengan terang benderang menyatakan
bahwa kewajiban mencari nafkah diberikan kepada suami. Tetapi, dewasa ini,
seorang isteri pun banyak yang turut ikut bekerja (mencari nafkah) dengan
beragam alasan. Jika pun demikian, maka coba fikirkan baik-baik, dengan alasan
apa kita harus bekerja (mencari nafkah) membantu suami. Baik bekerja maupun di
rumah saja, masing-masing memiliki kebaikan. Dengan bekerja, selain mandiri
secara finansial, membantu keuangan di rumah, memiliki banyak relasi, mengenal
dunia luar, menjadi seorang profesional dan banyak lagi.
Tetapi,
tidak perlu khawatir, jika pilihan itu jatuh, untuk menjadi ibu rumah tangga.
Banyak kebaikan juga tersimpan disana, kebersamaan bersama anak, waktu yang
banyak untuk mengurus dan melayani keluarga, lalu banyak lagi. Menjadi seorang
ibu rumah tangga juga tidak serta merta membuat kita tidak mandiri secara
finansial. Seorang IRT juga bisa mandiri secara finansial tanpa harus
kehilangan momen berharga bersama anak-anak dan keluarga. Membuka warung/toko,
mengajar privat di rumah, berjualan di dunia maya, menulis, hanyalah satu dari
sekian banyak pilihan yang bisa dipilih. Seorang IRT juga bisa memiliki banyak
relasi dan dunia luar, saat bisnis rumahannya bertambah maju, ikut aktif
berperan dalam perkumpulan ibu-ibu semisal arisan, pengajian, PKK, Posyandu
atau banyak lagi.
2. Air Susu Ibu atau
Air Susu Sapi?
Jika
saya ditanya, apa yang hendak saya lakukan jika saya bukan lagi seorang
pegawai? barangkali, saya akan membuka sekolah, untuk anak-anak saya dan banyak
anak lagi di luar sana. Membuka daycare, tempat penitipan anak atau semacam
itu, bayangan yang sempurna dibenak saya. Lalu, saya sekalian saja membuka toko
buku, atau warung kelontongan sederhana juga tak apa.
Bukan
bermaksud mendiskreditkan seorang pegawai atau karyawan, bukan begitu. Tetapi,
saya hanya ingin mengajak kita semua, untuk memiliki rencana. Jika pun tetap
ingin bekerja, jadilah pengusahanya. Jadilah pemilik waktunya. Bagi yang telah
memutuskan untuk berhenti bekerja, jangan khawatir, anda masih bisa memikirkan
pekerjaan apa yang tepat sebagai seorang irt yang mandiri. Pakailah modal yang
telah anda himpun selama bekerja, untuk membuka usaha kecil-kecilan, atau
sekalian saja usaha besar jika memang modalnya besar. Bagi ibu-ibu yang bekerja
full sebagai ibu rumah tangga, yang saat ini tengah kerepotan mengurus si kecil
atau sibuk dengan banyaknya anak-anak, sehingga belum bisa merealisasikan
keinginan untuk mandiri secara finansial. Berfokus saja dulu mengurus keluarga
(jika semua kebutuhan telah terpenuhi oleh suami), kemudian bergabunglah dengan
komunitas yang membangun. Olah setiap kreativitas yang dimiliki untuk
dikembangkan.
Bagi
yang tetap bekerja (mencari nafkah) atau apapun alasan yang mendasarinya.
Ibu-ibu yang menjadikan profesinya sebagai ladang amal. Guru, perawat, dokter,
dosen atau pegawai pemerintahan atau semacam itu, jika memang kesempatan,
kemampuan dan keadaan memang mendudukkan kita berada disana, jalani dan
syukuri. Resiko selalu ada, baik sedang bekerja atau dirumah saja.
Saya
membaca status seorang ibu pekerja yang hari ini sedang kelabakan, karena
hendak dinas luar, dengan catatan tidak diperkenankan membawa anak. Padahal,
anaknya masih berumur bulan. Gundah gulana si ibu tentu pernah juga dirasakan
oleh ibu-ibu pekerja kantoran yang lain. Saya jadi teringat status saya
beberapa bulan lalu, tentang cuti melahirkan di negara kita yang hanya tiga
bulan. Sementara di negara-negara lain telah lebih bijak dengan memberikan
jangka cuti yang lebih panjang, untuk memenuhi kebutuhan bayi akan ASI. Tetapi,
banyak juga tanggapan yang tidak sependapat dengan itu (maksud saya, jika
negara kita juga ikut menerapkan cuti lebih dari tiga bulan), dan ucapan itu
terlontar pula dari seorang perempuan. Maka, jangan heran jika beberapa peraturan
yang dibuat terkadang tidak menguntungkan bagi ibu, yang akhirnya berujung pada
tidak terpenuhinya hak anak.
Tetapi,
para ibu di tahun 2012 lalu, begitu berbahagia dan berbunga-bunga setelah
muncul PP ASI yang baru. Dan bagi saya secara pribadi, hal ini sangat baik dan
membuat peraturan cuti melahirkan pegawai menjadi berimbang. Dalam Peraturan
Pemerintah No 33 Tahun 2012 Tentang ASI, dimana dengan jelas menguraikan
tentang tanggung jawab pemerintah tentang pencapaian program pemberian ASI
Eksklusif yang tertuang dalam Pasal 3, 4 dan 5:
Pemerintah
bertanggung jawab membina, mengawasi, serta mengevaluasi pelaksanaan dan
pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,
satuan pendidikan kesehatan, Tempat Kerja, tempat sarana umum, dan kegiatan di
masyarakat.
Maka,
seharusnya tidak boleh ada pelarangan saat seorang ibu membawa bayi ke tempat
kerja, meski hal ini nampaknya masih begitu tabu dan berlawanan dengan
mainstream yang telah melekat di masyarakat. Sehingga tidak perlu lagi, ada
ibu-ibu yang harus bercucuran airmata saat harus berangkat bekerja.
Pasal
30
(1)
Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus mendukung
program ASI Eksklusif.
(2)
Ketentuan mengenai dukungan program ASI Eksklusif di Tempat Kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perusahaan antara
pengusaha dan pekerja/buruh, atau melalui perjanjian kerja bersama antara
serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha.
(3)
Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan
fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi
kemampuan perusahaan.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui
dan/atau memerah ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal
34
Pengurus
Tempat Kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk
memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di
Tempat Kerja.
Pasal
35
Pengurus
Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib membuat peraturan
internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.
Jika
membaca cuplikan dari PP tersebut, maka jelas bahwa seharusnya tempat kerja
wajib memberikan fasilitas tempat menyusui, wajib memberi kesempatan memberikan
ASI Eks saat jam kerja, mendukung tercapainya program ASI Eksklusif.
Pasal
36
Setiap
pengurus Tempat Kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum yang tidak
melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat
(3), atau Pasal 34, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Bagi
ibu-ibu pekerja yang dilema terhadap peraturan yang membelenggu seperti kasus
yang dihadapi sang Ibu yang hendak dinas luar tadi, secara hukum dapat
mengajukan keberatan, gugatan atau semacamnya berdasarkan PP ini, yang
dikuatkan dalam pasal 36.
Butuh
perjuangan untuk dapat merealisasikan peraturan Tuhan. Saya katakan demikian,
sebab peraturan menyusui ini sendiri sudah jelas-jelas tertuang dalam Al-Quran.
Tetapi, syukurlah jika pemerintah kita telah cukup peduli dengan membuat
Peraturan Pemerintah. Dengan begitu, saat terjadi ketidaksepahaman, ibu pekerja
masih dapat berkilah dengan payung hukum negara.
Tentang
ASI inilah adalah ruang 'dilema' bagi ibu pekerja, melahirkan keresahan yang
begitu dalam tentang pilihan, bekerja atau ibu rumah tangga?
Bagi
saya, keduanya tidak ada bedanya, sama-sama hebat dan memiliki sisi baik.
Jadi
tidak perlu ada dikotomi atau membanding-bandingkan kondisi keduanya, baik yang
saat ini berstatus ibu pekerja maupun ibu rumah tangga.
Keduanya
sama hebatnya!!
Wallohu
a'lam bish showab
Dakwah Itu……………………
Dakwah Itu……………………
Dakwah itu, membina, bukan menghina…
Dakwah itu, mendidik, bukan 'mendelik'…
Dakwah itu, mengobati, bukan melukai
Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…
Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…
Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…
Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan..
Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar....
Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar ..
Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…
Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh...
Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…
Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif..
Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…
Dakwah itu, realistis, bukan fantastis
Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata.
Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…
Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji...
Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan..
Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat...
Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru..
Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…
Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat
Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan...
Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya..
Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran..
Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif….
Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan..
Dakwah itu, memberi senyum manis J, bukan menjatuhkan vonis…
Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…
Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan..
Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…
Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…
Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…
Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…
Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…
Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…
Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…
Dakwah itu, kita mengatakan.. 'aku cinta kamu'… bukan… 'aku benci kamu..'
Dakwah itu, kita mengatakan, 'Mari bersama kami…' bukan.. 'Kamu harus ikut kami...'
Dakwah itu, dapat di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran…. Dakwah bukan hanya di pengajian….!
Dakwah itu, ……asyik dah ……… Mau ikutan?... Hayuu lah..!
Riyadh, 1434 H
(dikutip dari milis duat oleh abdullah haidir )
Jumat, 01 Maret 2013
TIPS : SEDEKAH MESRA DI JUMAT YANG BERKAH
SEDEKAH MESRA DI JUMAT YANG BERKAH
Hatta Syamsuddin
Hatta Syamsuddin
Hari jumat memang berbeda. Rasulullah SAW pun menyebutnya dengan hari raya. Banyak amalan sunnah disyariatkan dengan pahala yang dilipat gandakan. Bahkan bukan hanya amalan yang terkait dengan ibadah dan sedekah, namun juga seputar kemesraan suami istri, atau lebih jauh lagi : berjimak (hubungan suami istri) di Jumat pagi. Sebagian ada yang ragu-ragu tentang hal ini, sebagian yang lain menyambutnya dengan gembira dan bersemangat. Bahkan fenomena jumat mesra ini ditabuh begitu kencang di media sosial seperti facebook dan twitter. Akibatnya, banyak suami yang tambah menggebu, sebagaimana pula banyak istri yang malu-malu. Nah, perlu rasanya kita kupas sejenak tentang dalil dan hikmah dari aktifitas mesra suami istri khususnya di jumat pagi. Agar tak perlu lagi ada rasa ragu-ragu dan malu-malu dalam menjalaninya.
Dalil berhubungan suami istri di hari Jumat
Para ulama berbeda pendapat seputar anjuran berhubungan suami istri di hari jumat. Mereka yang mendukung mengambil pendapat yang tersurat dan tersirat dalam beberapa hadits. Dua riwayat shohih menyebutkan secara tersirat (isyarat), dan ada dua riwayat lemah yang menyebutkan secara tersurat nan jelas.
Pertama, Riwayat Bukhori Muslim dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta... dan seterusnya (HR. Bukhari Muslim). Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dari hadits diatas sebagian ulama menyebutkan adanya isyarat anjuran berjimak di hari Jumat, agar dapat mandi janabah setelahnya.
Kedua, Riwayat Aus bin Aus ra yang berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa memandikan (ghosala) dan mandi (igthasala) pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun." (HR. Abu Dawud, Al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad dan sanad hadits ini dinyatakan shahih). Kalimat ghosala atau memandikan dalam lafadz hadits di atas, banyak diartikan oleh sebagian ulama dengan artian : memandikan istrinya yaitu membuat istrinya mandi karena berhubungan badan sebelumnya.
Ketiga, Riwayat yang lebih spesifik namun tidak terlampau kuat, disampaikan oleh Imam Suyuthi dalam Tanwir Hawalik, yaitu hadits : “Apakah tidak mampu salah seorang dari kalian untuk menjimak istrinya setiap hari Jumat ? Maka sesungguhnya ia akan mendapat dua pahala : pahala mandinya, dan pahala mandi istrinya. (HR Baihaqi dalam Syuabul Iman dari Abu Hurairah)
Keempat, Riwayat ini memberikan keutamaan secara khusus dan diibaratkan sebagai sebuah sedekah. Dari hadits ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bertanya pada seorang dari sahabat, beliau bertanya: “ Apakah engkau hari ini telah menjenguk orang sakit ? “. Sahabat tadi menjawab : “ belum”. Rasulullah SAW bertanya : “ apakah sudah bersedekah”. Ia menjawab : “ belum”. Rasul kembali bertanya: “ engkau sudah sholat jenazah?” . Ia menjawab kembali : “ belum”. Rasulullah SAW kembali bertanya : “ apakah engkau sudah berjimak dengan istrimu ? “. Ia menjawab : “ belum”. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan : “ Kalau begitu berjimaklah, karena itu sesungguhnya sedekah darimu bagi mereka (istrimu)”. (HR Thobroni dalam Al-Austah, Al-Haitsami mengatakan dalam kitab Majmu Zawaid : di dalam sanadnya ada an-Nashr bin Asim bin Hilal al-Bariqi yang aku tidak tahu, sedangkan sisanya adalah perawi terpercaya)
Nah empat riwayat diatas setidaknya yang menjadi acuan tentang anjuran bermesraan suami istri secara mendalam (berjimak), pada hari jumat pagi atau malam jumat. Tentu saja ini bukan sekedar soal hitam putih hukum dan dalil, karena secara umum ‘bersedekah’ kepada istri pada setiap waktu - kecuali yang terlarang seperti ramadhan, ihrom dan haidh- adalah hal yang berpahala. Namun tentu perlu bagi kita untuk menelisik lebih jauh hikmah dari anjuran sedekah mesra di Jumat pagi.
Hikmah Anjuran Berhubungan Suami Istri di Jumat Pagi
Tentu selain mendapatkan pahala kemesraan, ada beberapa hal yang menjadi hikmah dari anjuran mesra ini, para ulama seperti Ibnu Hajar juga menyebutkan beberapa hal, saya tambahkan dan lengkapi menjadi hal-hal sebagai berikut :
Pertama, Lebih menenangkan Jiwa sehingga lebih siap untuk beribadah
Desakan gejolak seksual akan terasa sangat mengganggu bagi kaum pria, dan itu menjadi lebih tidak mengenakkan pada hari Jumat yang semestinya dioptimalkan dengan kekhusyukan beribadah. Karenanya gejolak tersebut perlu disalurkan lebih awal, agar jiwa lebih tenang pada hari yang tersisa.
Kedua, Lebih menundukkan pandangan saat di jalan
Diriwayatkan pada masa awal Islam kaum muslimah juga pergi keluar untuk mengikuti sholat Jumat berjamaah, karenanya hal tersebut menjadi ujian tersendiri bagi kaum laki-laki dalam menjaga pandangan di jalanan. Hari ini meskipun tidak banyak wanita yang mengikuti sholat Jumat di masjid, namun esensinya tak jauh berbeda karena di jalanan pun begitu mudah ditemui hal-hal yang mengganggu dan menggoda pandangan. Dengan telah berjimak di pagi hari maka hal-hal teknis semacam itu diharapkan bisa berkurang atau teratasi.
Ketiga, Lebih Sehat dan Bahagia di Hari Raya.
Hari Jumat adalah hari raya yang tidak hanya berisi ibadah semata, namun juga kebahagiaan nan penuh semangat. Karenanya dengan berhubungan badan suami istri di pagi hari, akan melahirkan sehat dan semangat yang berlebih untuk menyambut hari bahagia tersebut. Hal ini didukung dengan serangkaian penelitian soal tersebut, pakar kesehatan menyebutnya dengan morning sex. Dikatakan dalam sebuah situs kesehatan bahwa : "pasangan yang melakukan hubungan intim di pagi hari mampu meningkatkan suasana hati di siang hari. Tak hanya itu, hal ini juga mampu meningkatkan kesehatan kulit, rambut dan kuku. Estrogen kimia yang dilepaskan selama “sexy time” bisa membuat rambut lebih bersinar, kuku lebih kuat dan meningkatkan warna kulit. Para ahli juga mengatakan, tingkat testosteron pria mengalami lonjakan sepanjang malam saat tertidur, sehingga pagi hari sebenarnya para pria lebih cenderung berada dalam mood untuk bercinta. Bercinta di pagi hari juga membuat tubuh kita lebih sehat dan lebih bahagia, serta mampu membakar rata-rata 300 kalori per jam dan meningkatkan tingkat denyut jantung dan sirkulasi darah sambil menurunkan tekanan darah."
Nah, akhirnya tak ada alasan lagi untuk tidak menyambut hari Jumat dengan penuh riang gembira. Bukan hanya ada dosa-dosa kecil yang berguguran di janjikan, namun sebentuk kemesraan nyata nan berpahala juga telah menunggu untuk ditunaikan. Segera bacakan artikel ini dihadapan istri Anda tercinta ...
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
http://www.indonesiaoptimis.
Selasa, 15 Januari 2013
Tips Mengundang Rezeki
Ada orang ngundang rejeki dg cara tiap pagi membagi 40 nasi untuk duafa, rutin dia lakukan.. Langitpun tersentuh! Allah Ridho.. Lherrrr!!
Ada org yg ngundang rejeki dg cara mencium kaki ibunya, lalu minta didoakan.... Langitpun bergetar! Allah Ridho... Wussss!!!!
Ada yg ngundang rejeki, tiap minggu dia datangi anak2 Yatim, diusap2 kepalanya, dibelikan sesuatu utk mereka, spt yg diajarkan Kanjeng Nabi
Ada yg ngundang rejeki, tiap pagi berangkat kerja dia rutin bersedekah kepada siapa saja... Malaikat tahluk, Allah Ridho... Blaaarrr!!
Ada org yg ngundang rejeki, tiap malam jumat dia membagi makanan kepada 100 orang yg tidur di Jalanan.. Doanya tembusss langit!
Ada orang yg ngundang rejeki, tiap pagi dia menatap langit langsung, mengangkat tangan, dan Nembung lgsg pada Tuhannya.. "Cukupkan Aku.."
Ada yg ngundang rejeki, tiap jumat omzet/profit penjualannya 100% disedekahkan.. Malaikat haru, Allah Ridho... Byuuurrr!!!
Ada yg ngundang Rejeki, tiap bulan 20% dari total pendapatannya disedekahkan.. Dia Yakin Tuhannya MAHA KAYA.. Langit membuktikan!
Ada yg ngundang rejeki, seminggu sekali dia tengah malam datangi rumah duafa, dia panggul sendiri makanan untuk mereka... Langit merekamnya
Ada yg ngundang rejeki, tiap jumat dia tidak mau dibayar untuk tenaganya yg dia berikan ke orang lain.. Tiap tetes keringatnya pnh pahala
Ada yg ngundang rejeki, tiap pagi dia sholat Duha 8-12 Rakaat, ktk orang lain sdh sibuk dia memilih ngadep langsung ke Penciptanya..
Ketika tukang becak-pun bersedekah, maluuuu kita kalo justru kikir dan pongah...
Rejekimu bukan dari Bossmu atau pelangganmu.... Tp dr Allah.. Undang rejeki dtg dg cara2 yg Allah Ridhoi... Tenaaang, DIA MAHA KAYA kok..
"Memberi itu tenangkan hati..." -» kalo hatimu gak tenang, jangan2 karena berbagipun engkau enggan..
Orang yg yakin ALLAH MAHA KAYA, dia gak pernah takut kelaparan.. dia gak pernah takut.. dan gak pernah ragu!
Bagaimana rejeki mau berlimpah.. Kalo sedekah aja ogah..
Narman Syah
Senin, 31 Desember 2012
Tips : Mengucapkan Selamat Natal Dalam Islam
Selamat Natal Menurut Al-Qur’anOleh: Dr. M. Quraish Shihab
Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma.
Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali. Tetapi
Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak sungai di bawahmu, goyanghan
pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu. Kalau ada
yang datang katakan: “Aku bernazar tidak bicara.”�
“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu
pun bukan pezina”,� demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di
gendongannya.
Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu
bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang
diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian
sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari
kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup
kembali.”
Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34. Dengan
demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama
dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.
Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah Al-Quran telah
memberikan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh,
Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap
Muslim harus percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga
harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba dan utusan
Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk mereka berdua
sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita
merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan
hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa ‘Asyura,
seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi
pengikut Musa a.s.”
Bukankah, Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda? Seperti
disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat bersaudara? Apa
salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas
kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih
kurang pandangan satu pendapat.
Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih yang dijelaskan
oleh sejarah atau agama dan telah disepakati, sehingga harus diterima.
Tetapi, ada juga yang tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita
berhenti untuk merujuk kepercayaan kita.
Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan doakan yang
menganiayamu.”� Muhammad saw. datang membawa rahmat, “Rahmatilah yang di
dunia, niscaya yang di langit merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran
keduanya; karena itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.
Isa menunjuk dirinya sebagai â€Å“anak manusia, sedangkan Muhammad saw.
diperintahkan oleh Allah untuk berkata: “Aku manusia seperti kamu. Keduanya
datang membebaskan manusia dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu
penindasan. Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit telah
mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan kekeliruan mereka dengan
berkata, “Dia tidak mati, tetapi tidur.”� Dan ketika terjadi gerhana pada
hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata: Matahari mengalami gerhana
karena kematiannya.� Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak mengalami
gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.”�Keduanya datang
membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah dan tertindas dhuâfaâ dan
al-mustadhâ’affin dalam istilah Al-Quran.
Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih?
Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawaâ (Kata Sepakat) yang
ditawarkan Al-Quran kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau
demikian, apa salahnya mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat
dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud oleh
Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan selamat natal itu?
Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim mengucapkan
selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual. Di sisi lain,
marilah kita menggunakan kacamata yang melarangnya.
Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat dipelihara. Karenanya
salah, bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas nama agama. Tetapi,
juga salah serta dosa pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas
nama kerukunan.
Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas, dan tidak juga
rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan dan kesalahpahaman. Bahkan
Al-Q!uran tidak menggunakan satu kata yang mungkin dapat menimbulkan
kesalah-pahaman, sampai dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak
disalahpahami. Kata “Allah”,� misalnya, tidak digunakan oleh Al-Quran,
ketika pengertian semantiknya yang dipahami masyarakat jahiliah belum
sesuai dengan yang dikehendaki Islam.
Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah Rabbuka (Tuhanmu, hai
Muhammad) Demikian terlihat pada wahyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi
saw. Sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya, “Di mana Tuhan?”� Tertolak riwayat sang menggunakan redaksi itu
karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan pada satu tempat, hal yang
mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan
serupa, para ulama bangsa kita enggan menggunakan kata “adaâ” bagi Tuhan,
tetapi “wujud” Tuhan.
Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia agung lagi suci
itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap
Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Nah, mengucapkan “Selamat
Natal”�atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman
dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan
akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan
dengan akidah Islam. Dengan kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram
itu, sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat, aktivitas
apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak dibenarkan, sampai pada jual beli
untuk keperluan Natal.
Adakah kacamata lain? Mungkin!
Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya memelihara akidah.
Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknya lebih banyak ditujukan
kepada mereka yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika
ada seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau
mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat Natal”� Qurani, kemudian
mempertimbangkan kondisi dan situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga
tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang
lain, maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah yang
berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan dan menghayati satu
ayat Al-Quran?
Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran
memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai
dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh
pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi
itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang
dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non
Muslim memahami ucapan “Selamat Natal”� sesuai dengan keyakinannya, maka
biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya
sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka
interaksi sosial.
Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia
ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi,
tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap
arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.
Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah berimajinasi
tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian umat Islam pun percaya akan
kedatangannya kembali. Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi dan
kepercayaan itu, kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang,
seluruh umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan. Bukan saja
sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan ucapan umat Muhammad saw.
Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari
wafat dan hari kebangkitannya nanti.
MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
Senin, 17 Desember 2012
RIDHO SUAMI adalah SURGA bagimu wahai PARA ISTRI
Mengapa RIDHO SUAMI itu adalah SURGA bagimu wahai PARA ISTRI .
|☆. Suamimu dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan sering kala rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.
|☆. Suamimu dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah dan ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.
|☆. Suamimu ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah, engkau lebih harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.
|☆. Suamimu berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. padahal bisa saja disaat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar. namun tetap saja masalahmu di utamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.
|☆. Suamimu berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu. sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.
|☆. Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka, karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka. karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri...
Dikutip dari Status FB : Aidil Heryana
Kamis, 06 Desember 2012
Ikhwan itu...
Hari itu dua orang aktivis saling debat terkait problem organisasi.. "ana ikhwan akhi, antum ini selalu suka main vonis saja"... bla bla bla..
Teman dari pada "saling nyerang" mendingan kita resapi lagi nih.... :
Ikhwan itu... tongkrongannya masjid atau mushala bukannya mall atau party-party
Ikhwan itu.. duduk dari pengajian satu ke pengajian lainnya bukannya pacaran di cafe remang-remang
Ikhwan itu.. hobinya baca Qur’an bukannya baca ramalan bintang
Ikhwan itu... doyannya ngapalin Qur’an bukannya lirik lagu mellow yang isinya ratapan dan tangisan
Ikhwan itu.. di playlistnya penuh sama muratal Qur’an atau rekaman kajian bukannya lagu-lagu yang bikin kepala manggut-manggut plus bejogetan
Ikhwan itu.. berilmu dulu baru beramal bukan yang gayanya selangit dengan ilmu pas-pasan
Ikhwan itu.. ilmunya gak dipendem sendiri di buku catatan tapi disebarkan biar ummat bisa tau kebenaran
Ikhwan itu.. gak ragu amar ma’ruf nahi munkar bukannya nunggu lancar plus khatam bahasa Arab dan kitab2 dulu baru didakwahkan
Ikhwan itu.. berani menerima kebenaran bukan sibuk mencari pembenaran
Ikhwan itu.. sigap dan tanggap saat dibutuhkan bukan diem aja banyak alasan ato cari aman
Ikhwan itu.. anti update status galau bukannya tiap hari menebar nestapa duka lara minta dikasihani
Ikhwan itu.. isi status atau tweetnya menebar hikmah dan semangat bukannya mencaci, memaki ngajakin ribut
Ikhwan itu.. mengadukan masalahnya pada Alloh Sang Pemilik kehidupan bukan mengadu di fesbuk, twitter atau BBM gan
Ikhwan itu.. gak malu nangis akan dosa-dosanya di hadapan Alloh bukannya malu-maluin nangis gara-gara ditolak cewek gebetannya
Ikhwan itu.. gak bangga dengan banyaknya pujian bukannya malah emosi cuman gara-gara satu celaan
Ikhwan itu.. punya prinsip gan bukannya jadi follower pemikiran dan gaya hidup kebarat-baratan tanpa pegangan
Ikhwan itu.. kalo liat cewek cantik langsung nunduk/ mlengos buat jaga pandangan bukannya dipelototin gak karuan
Ikhwan itu.. gak demen obral janji dan sumpah serapah sama pasangan bukan yang enteng bilang “Aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang”
Ikhwan itu.. gak berani ngajak jalan sebelum ijab qabul terikrarkan bukannya malah berduaaan pegang-pegangan sebelum halalan thayyiban
Ikhwan itu.. berani dateng ke rumah buat ngelamar bukannya malem mingguan bawa lari anak orang padahal belum ada ikatan pernikahan
Ikhwan itu.. dandannya kalo ke masjid mau menghadap Tuhan bukan buat tebar pesona cari mangsa buat hang out-an
Ikhwan itu.. bangun malem buat tahajjudan bukan yang bangun kesiangan plus telat subuhan
Ikhwan itu.. sibuk dengan aib dan dosanya bukan cari-cari kejelekan orang (eh, ada ya? kirain akhwat doang..oh no)
Ikhwan itu.. berani keluar dari zona nyaman, berani gaul sama orang awam, gak cuma “jago kandang”
Ikhwan itu.. nasihatin orang dengan hikmah, kesantunan dan kelembutan akhlak bukan emosi dan ngrasa paling bener sendiri
Ikhwan itu.. gak takut dibilang kampungan gara-gara celana cingkrang
Ikhwan itu.. gak takut dibilang berantakan gara-gara jenggotan Ikhwan itu.. gak takut dibilang kelainan gara-gara menundukkan pandangan sama perempuan
Ikhwan itu.. gak takut dibilang banci gara-gara nolak rokok gratisan
Ikhwan itu.. gak takut dibilang ekstrim gara-gara gak salaman sama cewek bukan mahram
Ikhwan itu.. gak nunggu hidup mapan buat ngelamar wanita pilihan...yang penting mau usaha wan
Teman dari pada "saling nyerang" mendingan kita resapi lagi nih.... :
Ikhwan itu... tongkrongannya masjid atau mushala bukannya mall atau party-party
Ikhwan itu.. duduk dari pengajian satu ke pengajian lainnya bukannya pacaran di cafe remang-remang
Ikhwan itu.. hobinya baca Qur’an bukannya baca ramalan bintang
Ikhwan itu... doyannya ngapalin Qur’an bukannya lirik lagu mellow yang isinya ratapan dan tangisan
Ikhwan itu.. di playlistnya penuh sama muratal Qur’an atau rekaman kajian bukannya lagu-lagu yang bikin kepala manggut-manggut plus bejogetan
Ikhwan itu.. berilmu dulu baru beramal bukan yang gayanya selangit dengan ilmu pas-pasan
Ikhwan itu.. ilmunya gak dipendem sendiri di buku catatan tapi disebarkan biar ummat bisa tau kebenaran
Ikhwan itu.. gak ragu amar ma’ruf nahi munkar bukannya nunggu lancar plus khatam bahasa Arab dan kitab2 dulu baru didakwahkan
Ikhwan itu.. berani menerima kebenaran bukan sibuk mencari pembenaran
Ikhwan itu.. sigap dan tanggap saat dibutuhkan bukan diem aja banyak alasan ato cari aman
Ikhwan itu.. anti update status galau bukannya tiap hari menebar nestapa duka lara minta dikasihani
Ikhwan itu.. isi status atau tweetnya menebar hikmah dan semangat bukannya mencaci, memaki ngajakin ribut
Ikhwan itu.. mengadukan masalahnya pada Alloh Sang Pemilik kehidupan bukan mengadu di fesbuk, twitter atau BBM gan
Ikhwan itu.. gak malu nangis akan dosa-dosanya di hadapan Alloh bukannya malu-maluin nangis gara-gara ditolak cewek gebetannya
Ikhwan itu.. gak bangga dengan banyaknya pujian bukannya malah emosi cuman gara-gara satu celaan
Ikhwan itu.. punya prinsip gan bukannya jadi follower pemikiran dan gaya hidup kebarat-baratan tanpa pegangan
Ikhwan itu.. kalo liat cewek cantik langsung nunduk/ mlengos buat jaga pandangan bukannya dipelototin gak karuan
Ikhwan itu.. gak demen obral janji dan sumpah serapah sama pasangan bukan yang enteng bilang “Aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang”
Ikhwan itu.. gak berani ngajak jalan sebelum ijab qabul terikrarkan bukannya malah berduaaan pegang-pegangan sebelum halalan thayyiban
Ikhwan itu.. berani dateng ke rumah buat ngelamar bukannya malem mingguan bawa lari anak orang padahal belum ada ikatan pernikahan
Ikhwan itu.. dandannya kalo ke masjid mau menghadap Tuhan bukan buat tebar pesona cari mangsa buat hang out-an
Ikhwan itu.. bangun malem buat tahajjudan bukan yang bangun kesiangan plus telat subuhan
Ikhwan itu.. sibuk dengan aib dan dosanya bukan cari-cari kejelekan orang (eh, ada ya? kirain akhwat doang..oh no)
Ikhwan itu.. berani keluar dari zona nyaman, berani gaul sama orang awam, gak cuma “jago kandang”
Ikhwan itu.. nasihatin orang dengan hikmah, kesantunan dan kelembutan akhlak bukan emosi dan ngrasa paling bener sendiri
Ikhwan itu.. gak takut dibilang kampungan gara-gara celana cingkrang
Ikhwan itu.. gak takut dibilang berantakan gara-gara jenggotan Ikhwan itu.. gak takut dibilang kelainan gara-gara menundukkan pandangan sama perempuan
Ikhwan itu.. gak takut dibilang banci gara-gara nolak rokok gratisan
Ikhwan itu.. gak takut dibilang ekstrim gara-gara gak salaman sama cewek bukan mahram
Ikhwan itu.. gak nunggu hidup mapan buat ngelamar wanita pilihan...yang penting mau usaha wan
Langganan:
Postingan (Atom)














